CLOCK


Mutiara Harian

Showing posts with label Cerita Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Inspirasi. Show all posts

Monday, November 21, 2016

JIKA HATI BAIK



Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat. Rusaknya hati adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya).
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hadits di atas adalah lanjutan dari hadits tentang meninggalkan perkara syubhat yang telah kita kaji sebelumnya.
Tergantung pada Baiknya Hati
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, -pen), itu semua tergantung pada baiknya hati. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210.
Para ulama katakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).
Para ulama katakan bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ul ‘Ulum, 1: 210.
Letak Jalan Berpikir adalah Di Hati
Hadits ini juga merupakan dalil bahwa akal dan kemampuan memahami, pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati, bukan di otak (kepala). Demikian disimpulkan oleh Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah.
Apa yang Dimaksud Baiknya Hati?
Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud baiknya hati, berikut pendapat yang ada:
1-      Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah dan siksanya.
2-      Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat taqorrub pada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari ridho Allah.
3-      Yang dimaksud adalah rasa cinta pada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan.
Intinya, ketiga makna ini semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. Demikian penjelasan guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.
Bagaimana Cara Baiknya Hati?
Guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan semoga Allah memberkahi umur beliau dalam kebaikan dan ketaatan- mengatakan, “Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada siksa-Nya, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, yaitu tidak ada rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak. Karena hati yang memegang kendali seluruh jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaklah meminta pada Allah agar dikaruniakan hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusannya. Sebaliknya, jika rusak, maka tidak baik pula urusannya.” (Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 109).
Karenanya, yang sering Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– minta dalam do’anya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdo’a,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat sesuai syarat Muslim).
Bagaimana Hati Bisa Rusak?
Syaikh Sholih Al Fauzan mengutarakan bahwa rusaknya hati adalah dengan terjerumus pada perkara syubhat, terjatuh dalam maksiat dengan memakan yang haram. Bahkan seluruh maksiat bisa merusak hati, seperti dengan memandang yang haram, mendengar yang haram. Jika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka rusaklah hatinya. Jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya. Hendaklah kita melakukan sebab supaya baik hati kita. Namun baiknya hati tetap di tangan Allah. Lihat Al Minhah Ar Robbaniyah, hal. 110.
Moga setiap langkah kita senantiasa berada di atas kebaikan.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 213).
Ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala tho’atik (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan). Wallahul muwaffiq.

Referensi:
Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, tahun 1429 H.
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392 H.
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, terbitan Muassasah Ar Risalah,cetakan kedelapan, tahun 1419 H.
Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah
Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Al Mukhtashor, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1431 H.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 26 Muharram 1434 H


Sumber : https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html

Tuesday, October 18, 2016

SCI and I


Disini banyak hikmah dari setiap apa yang didapat. Sedikit demi sedikit dapat mengenal kekasih Allah, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
Gurunda Sirah (ustadz Asep Sobari, Lc) bilang kita belajar sabar disini.
Saya sendiri sedih belum bisa mengamalkan ilmu yang telah beliau sampaikan. Ketika gurunda telah selesai menyampaikan sebenarnya jadi merasa tanggung jawab berikutnya saya harus menyampaikan kembali apa yang gurunda ajarkan.
Afwan ustadz, doakan saya supaya bisa menyampaikannya kembali, aamiin
Semoga bisa ilmu yang sudah didapat dapat bermanfaat untuk orang lain.
Banyak hikmah mempelajari sirah ini.
Barakallahu fiikum

Kalau masih ada ayah ibu pasti ditanyain, mba jangan pulang malem terus, dijaga kesehatannya, dikantor aja pasti udah cape, banyak yang mesti dikerjain sama dipikirin. Jangan ngoyo, kasian badannya. Tapi tetep aja anaknya ga bisa diem, dimana sehabis kerja anaknya ada aktivitas lagi. Apa ga cape mba kayak gitu, kalau dikeluhkan pastilah cape, tapi banyak nilai lebih dibanding pulang cepat dikostan ngelamun, nonton tv, bengong, padahal banyak sich yang harus dikerjain dikostan, nyuci, nyetrika, baca buku, ngobrol sama keluarga, saudara, teman...Tapi sukanya mendengarkan dan datang langsung. Pengennya kuliah lagi ambil S2,S3(tapi cuma mimpi) lihat biayanya aja langsung give up, ga ada uang buat bayar dan ga punya prestasi untuk dapat beasiswa, cm punya modal semangat belajar (kadang semangatnya jg turun). Dulu taunya Matematika, Biologi, Kimia, Bahasa, Geografi, dll. Ternyata mempelajari Islam itu lebih menarik dari semua itu ada Sirah, Tahsin, ilmu hadist, tafsir, fiqih, Bahasa Arab tentang sharaf, Nahwu,(ini yang belum belajar) Pengen belajar terus, seneng belajar, dll terus kapan mau diamalkan ilmunya, sabar.. ga tau kapan bisa mengamalkannya sedih juga sich, semoga ilmunya dapat bermanfaat dan berkah. Cuma pengen jadi orang yang bermanfaat dan berkah. Walau banyak banget dosa yang diperbuat, semoga Allah ridho mengampuni. Kenapa senang belajar karena pengalihan pikiran ketika memikirkan ditanya kapan menikah(ini susah jawabnya, pengennya segera) tapi yang berkehendak Allah jadi pengalihannya ke belajar aja. Terima kasih buat semua yang sudah pengertian dan mohon maaf jika waktunya jadi berkurang (Terutama buat Keluarga, tapi masih tau waktu harus bagaimana), Terima kasih buat rekan-rekan dikantor suka pulang cepat karena kerjaannya sudah diselesaikan dengan tenaga extra, kalau belum selesai juga biasanya lembur juga, waktu fleksibel koq, karena waktu bisa diatur dan kita yang tentukan mau apa dan bagaimana. Mohon maaf atas kesalahan yang banyak tidak dapat disebutkan, mohon maaf belum diamalkan, mohon maaf jika was-was dan khawatir, yang kasihan sebenarnya bapak atau ibu kost atau penjaga kost atau satpam pintu masuk atau temen kostan yang suka tidurnya diganggu buat bukain pintu, nie anak pulang malam terus, mohon dimaafkan walau mereka ga mungkin baca tulisan ini, mohon dimaafkan, doakan selalu dalam kebaikan. Mohon maaf lahir batin
Allahummaa aamiin
Barakallahu fiikum
(Semoga Berkah)
Nurina Utami
18 Oktober 2016

Friday, May 27, 2016

Cara Mendidik Anak

Lumayan panjang tp sangat inspiratif.
Ambil Hikmahnya...
Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni.
Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.
“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di kursi. Matanya kosong memandang ke arah Doni dan kemudian melirik ke arah ku “Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat rapor sekolahnya buruk. Dengar itu.“ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.
Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai rapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok rajin ya belajarnya”
“Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh. Aku menangis “Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar.“
“Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda“
Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan ke kamar Doni. Kurasakan badannya panas. Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda.” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. "Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghela nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir yang juga laki laki dan dua tahun setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja.“ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil.“ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.
“Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren“
“Biar dia bisa dididik dengan benar”
“Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”
“Ini sudah keputusanku, Titik."
“tapi kenapa, Mas” Aku berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya. Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku “Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “Kamu ini laki laki. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren.“
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SMP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.
Ku purhatikan tahun demi tahun perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasah Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya.“ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.
Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “Doni tidak mencuri , Bunda. Tidak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku ”Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni“ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar.” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.
“Mas, Dimana Doni akan tinggal.“ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.
“Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri."
***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam.“
***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensi. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku di tengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.
Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah.“ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya
“Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah.“
“Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih.“
Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubat. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah, terimakasih anakku.



Friday, July 25, 2014

Semua Manusia Ingin di Hargai - Apa Yang Sebenarnya Dicari Orang Di Dunia Ini ?

Sumber : https://www.facebook.com/notes/tisa-khairunnisa/semua-manusia-ingin-di-hargai-apa-yang-sebenarnya-dicari-orang-di-dunia-ini-/454557393777

Sebenarnya kebanyakan orang saat ini, lebih banyak melakukan kebaikan dan kejahatan karena didorong oleh keinginan untuk dihargai oleh orang lain. Karena merasa takut dilecehkan dan takut tidak dihargai ditengah-tengah masyarakat, maka segala macam cara dilakukan agar ia memperoleh penghargaan di mata manusia baik melalui jalan yang kebaikan maupun kejahatan.

Koruptor misalnya, mereka berpikir bahwa dengan menyelewengkan dana negara ke saku pribadi, maka ia bisa menambah kekayaan diri dan keluarganya. Semakin banyak uang, semakin meningkat kesejahteraan hidup, maka semakin disegani dan dihargai pula oleh orang-orang disekitarnya. Sudah kaya, hidupnya mewah, tinggal di rumah elit lengkap dengan mobilnya, memiliki jabatan tinggi pula.

Lalu, apa sebenarnya yang orang cari di dunia ini ?
Kebahagiaan. Yah, semua manusia hidup didunia ini karena mencari kebahagiaan. Ada yang mencari sebatas kebahagiaan dunia, ada juga yang mencari sebatas kehidupan akhirat dan ada pula yang mencari kedua-duanya. Setiap orang memiliki makna kebahagiaan menurut persepsinya masing-masing. Ada yang merasa bahagia memiliki banyak harta, ada yang bahagia karena memeliki istri yang cantik nan sholehah, ada yang bahagia karena selalu dekat dengan TuhanNya, dan ada pula yang merasa bahagia jika ia mendapatkan sebuah penghargaan.

Caci maki dan hinaan sebenarnya bukan sumber lahirnya sakit hati. Lalu kenapa jika seseorang dihina ia sakit hati ? yah, karena ingin dihargai. Ia menganggap bahwa caci maki dan hinaan itu bisa menurunkan martabat dan harga dirinya. Karena itu ia merasa sakit dan tidak terima hal-hal seperti itu terjadi padanya. Jangan heran jika kemudian ada pembunuhan, kasus mutilasi ataupun kasus perkelahian gara-gara “dua kata…tiga kata” atau gara-gara cekcok mulut. Karena itu tadi, sekecil-kecil apapun bentuknya, jika hal itu bisa menurunkan harkat dan martabat seseorang, maka ia akan membela dirinya dengan setengah mati walau harus membuat orang lain menuju kematian.

Berbeda halnya dengan manusia yang mengenal dirinya, yang benar-benar memahami bahwa penghargaan yang paling mulia adalah penghargaan dari Allah. Yang ia cari semata-mata adalah keridhaanNya, memang susah. Memang berat mengamalkan prinsip "biar hina di dunia, namun muliah di akhirat", tapi hal ini tidak akan menjadi masalah bagi orang-orang yang beriman. Sedikitpun ia tak akan resah dan merasa pedih dengan penghinaan orang lain, malah hal itu akan membuatnya bersabar dan semakian giat membenahi diri. Tak tanggung-tanggung, untuk manusia seperti ini, Allah Subhanahuu Wata'ala akan memberinya balasan berupa Surga. Sebuah tempat dimana ia tidak akan dihina, dicaci maki dan dilecehkan oleh siapapun juga.
wallahu’alam….

Cita-Cita Terbesar.

Sumber :https://www.facebook.com/notes/tisa-khairunnisa/cita-cita-terbesar/10150325014188778


Dalam sebuah perjalanan hidup, cita-cita terbesar adalah 
menuju kesempurnaan. Ada kalanya kita mesti berjuang, serta belajar menyikapi segala rahasia dalam kehidupan.

Perjalanan menuju kesempurnaan adalah proses yang menentukan 
setiap tapak langkah kita. Setiap hembusan nafas, detak 
jantung, dari siang menuju malam. Semua menuju titik yang 
sama, kesempurnaan.

Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada 
seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap 
kita berbeda dalam mensikapinya. Ada yang berjuang untuk 
melewatinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang 
merasakan sempitnya kesempatan yang ia punya.

Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini 
dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan iman. 
Dengan cinta hidup menjadi indah. Dengan ilmu hidup menjadi 
mudah. Dan dengan iman hidup menjadi terarah.

BAHAGIA

Sumber : https://www.facebook.com/notes/tisa-khairunnisa/bahagia/389483018777

"Sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya." 

Janganlah mereka mengira bila kebaikan itu 

tidak ada keburukan setelahnya. 

Jangan pula mereka menyangka bila keburukan itu 

seperti pukulan yang terus membekas 



Seseorang yang telah hidup bahagia mengatakan, 

"Hari yang indah adalah hari ketika kita berhasil menguasai dan mengontrol dunia,bukan sebaliknya. Dan hari yang indah adalah hari ketika kita sanggup mengarahkan nafsu dan keinginan kita, serta kita tidak jatuh terpedaya olehnya. 

Hari-hari tersebut selalu kuingat dan tidak bisa aku lupakan. Di antara hari-hari tersebut adalah : 

Sebuah hari yang bisa menguasai diriku dan keluar dari segala bentuk keraguan adalah hari yang amat sangat indah. 

Indahnya sebuah hari dimana aku sempat bimbang antara akan melakukan suatu perbuatan yang karenanya orang lain memujiku dan amalan yang tak bakal mendatangkan pujian serta tak diketahui oleh seorang pun, tetapi aku lebih memilih untuk mengabaikan pujian orang lain itu dan kemudia mengerjakan amalan yang tidak diketahui orang lain. 

Indahnya sebuah hari ketika kantongku penuh dengan uang dan dihatiku tidak ada kedermawanan, tetapi aku kemudian lebihmemeilih untuk tidak punya apa-apa daripada hatiku hampa. 

hari-hari tersebut indah. Dan yang paling indah, adalah manakala bagianku pada hari itu sangat sedikit,tetapi ia memberitahuku akan sejauhmana kemampuanku dalam mengerjakan apa yang aku kerjakan. Dengan begitu bagian yang sedikit pun, alhamdulilah terasa banyak." 


Bahagialah dengan apa yang engkau peroleh, terimalah dengan senang hati segala pemberian Allah, dan abaikanlah mimpi-mimpi yang tidak sesuai dengan kadar dan kemampuanmu."

By : RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

Friday, February 21, 2014

Nasehat Ibu Kepada Anaknya : Tentang Kelanjutan Hidup

Allaahu yaa Rahmaan, yaa rahiim. Dia lah sumber inspirasi kasih sayang tiada batas dan tanpa menuntut balas. Dalam terminolgi asmaus sifat, 2 asma Allah tersebut tadi bersumber dari 1 kata sifat yakni Rahmah.. Yang secara sederhana berarti kasih sayang yang (memberi walau tak diminta, memberi melebihi yang diminta, dan memberi tanpa mengharap imbalan).
Berikut ini adalah Surat dari seorang ibu, untuk anaknya. Sang Ibu bukan seorang muslim, tapi fitrahnya sebagai manusia makhluk ciptaan Allah yaa rahmaan yaa rahiim, menuntun hatinya menuturkan nasihat untuk anaknya. Mari ambil yang baik, nilai-nilai universal yang sesuai dengan agama kita, dan tinggalkan yang kurang berkenan. Ditulis oleh Ellen Maringka pada kompasiana muda, yuk simak.
Nak,
Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki-laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian.  Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu.  I could never ask for more…
Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh.
Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini  kalian sudah cukup pusing dikejar kejar cewek yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values  from your parents. Never forget that.
Rasanya ibu tidak harus  panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu  :Contohilah ayahmu.
Soal cewek, ibu dapat memahami rasa heran maupun kebingungan kalian. Wanita memang tidak mudah dipahami. Sampai detik ini juga ibu kadang sukar memahami diri sendiri. Itu bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi.
Soal selera secara fisik, ibu tidak perlu komen panjang lebar. Masing masing kalian memiliki selera berbeda, dan itu sah sah saja… Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti secara jujur ibu harus mengatakan bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal karena kalian sebagai laki laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga. Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mengartikan ini…
Dari dulu ibu tidak pernah rewel soal berteman. Yang selalu ibu ingatkan adalah harus selalu baik dan sopan kepada orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kalian, apalagi sampai bisa membeli hati nurani.
Entahlah kalau ibu ibu yang lain… tapi ketika menyangkut soal memilih jodoh, ibu harus minta maaf lebih dulu. Jujur ibu akan sanget bawel soal ini.  Ibu tidak pernah mungkin bisa benar benar objektif menilai wanita yang akan menjadi istri kalian, tapi sedapat mungkin ibu janji akan bersikap adil dan fair sebatas kemampuan ibu. You two know that I am a fair person. Ibu benci ketidak adilan.
Meskipun sejujurnya ibu sudah berulang kali mengatakan… rasanya tidak ada wanita yang cukup pantas mendapatkan kalian. Ini  adalah  ungkapan kebanggaan seorang ibu kepada anak laki lakinya. Overdosis ? mungkin memang kedengaran berlebihan…but I can’t help it. Kelak istri kalian juga akan merasakan hal yang sama jika kalian memiliki anak laki laki…
Memilih istri itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil… Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kalian.. ketahui apa yang menjadi selera kalian.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara istri dan mobil adalah : Istri itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kalian mau. When you get married, you married for life.
Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah. Menikahlah karena kalian merasa pasti bahwa dengan dirinya kalian akan saling membahagiakan selamanya.
Ini yang bisa ibu katakan mengenai petunjuk umum secara garis besar ketika itu menyangkut calon istri…
 Look for the right chemistry. Kalian akan tahu itu ketika bertemu dengan yang cocok. Kalian akan menyadari bahwa rasanya masuk akal kenapa selama ini yang lain kurang menarik, dan ada sesuatu yang rasanya kurang sebelum bertemu dengannya.
Ada pesona tersendiri yang dibawanya yang memang melekat dalam dirinya tanpa dibuat buat.  Ibu pikir dulu ayahmu jatuh cinta dengan ibu karena diantara teman teman calon dokternya yang lembut feminin, tiba tiba nongol seorang wanita yang lain dari yang lain. Yang bisa memanjat pohon dan berantem dengan sangat baik….  Rupanya pria kalem yang tenang itu tergeletak tak berdaya dengan seorang gadis blak blakanyang kalau makan tidak pernah malu malu, dan bisa menyatakan pendapatnya dengan jujur,  sekalipun harus berbeda… Siapa yang bisa menyangka ? Tanya ayahmu soal chemistry… ibu tidak pernah bosan mendengar cerita klasik bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu…
- Nilai kebaikannya bukan semata dari cara dia memperlakukan kalian, tapi bagaimana dia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lebih tidak beruntung dari dirinya.
Tentu saja wanita akan baik kepada pria yang dicintainya.  Kebaikan sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Apakah dia adil dan jujur ? Apakah dia penuh belas kasih ?  Bagaimana dia menghormati orang tua dan memperlakukan teman temannya ? Dengan siapa dia bergaul ?. Bagaimana gaya hidupnya ? Apakah dia bisa tersenyum sama lebarnya ketika diajak makan di restaurant mahal  ataupun di warung Tegal yang murah meriah ?.
Perlu waktu untuk menilai ini semua. Tapi kalau soal jodoh, selalu ibu katakan, jangan merasa diburu buru.  Take your time… give time enough time.
- Pilihlah wanita yang mampu menertawakan dirinya sendiri. Ini kemampuan hebat yang sangat perlu. Hidup ini akan membawa kalian kepada banyak masalah dan lika liku… Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada  hidup bersama dengan wanita yang mampu membuat kalian tertawa.
Pilihlah wanita yang bisa tertawa ketika kalian mengatakan “kartu ATM-ku tertelan lagi….
Selera humor yang baik itu bukan menertawakan orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa menertawakan dirinya sendiri dan melihat sisi lucu dan baik dari segala sesuatu.  Pada akhirnya cinta yang bergelora itu akan stabil… kupu kupu yang terbang tak tentu arah dalam perut kalian ketika pertama jatuh cinta, akan hinggap dengan tenang dan menetap, digantikan dengan rasa nyaman yang  menyenangkan…, tapi perekat cinta yang awet adalah tertawa bersama menjalani kehidupan rumah tangga kalian.
Menikahlah dengan wanita yang memiliki prinsip hidup yang baik dan menghormati prinsip prinsipnya. Dia tidak harus selalu setuju dengan kalian. Buat apa menikah dengan orang yang selalu mengatakan ya ? When two person always agree, one is not necessary…
Pilihlah wanita yang mampu menyikapi perbedaan pendapat, mampu menghargai perbedaan selera dan berkompromi secara fair…
Menikahlah dengan wanita yang mampu bicara jujur demi kebaikan.
- Ini yang terakahir, tapi bukan berarti tidak penting…. Menikahlah dengan wanita yang menghormati kalian. Ibu akan menjadi orang yang paling naik pitam jika kalian dikasari. Terutama di depan umum. Never .. ever let a woman be rude to you.
Ibu bisa mengatakan ini karena ibu mendidik kalian untuk selalu menghormati dan menghargai wanita.  Cinta tanpa penghargaan bagaikan mobil tanpa setir, tidak berguna.
Well, you know your mother.. ini dulu yang bisa ibu katakan. Mudah mudahan tidak ada lagi yang perlu ibu tambahkan  kecuali bahwa I love you and will always be proud of you , my sons.
For Russell and Reinhart, with unlimited love from your Mum.)
Hmm.. Yap, nasihat ini penuh kejujuran hati seorang ibu. Siapapun ibu, pasti memiliki rasa yang sama terhadap anaknya. Semoga nilai-nilai baik mampu dipetik hikmahnya dengan penuh ketawadhu’an, penuh penghormatan. Dan yang sesuai dengan agama kita, kita ikuti penuh ketaatan, baik tentang etika adab menghormati Ibu (ortu), maupun dalam memilih calon ibu bagi anak-anak kita, semata-mata karena Allah SWT dan rasulNya saw telah tuntunkan. Barakallaah. *ntms
Sumber : https://agastya.wordpress.com/2014/01/23/nak-ibu-ingin-bicara-soal-memilih-perempuan/

Note : Maaf Judul Blog diganti. Karena tulisan ini bagus dan menarik maka saya posting di blog ini untuk reminder. Karena banyak pesan dan hikmah yang bisa didapat dari tulisan ini. Seperti contoh, kita harus bisa menilai diri kita sendiri ketika kita mau memilih sesuatu. Belajar dan terus belajar, jangan sampai bosan. Jika Bosan refreshing itu perlu. And the Conclusion is Soulmate is who you are

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

NUrina Utami