CLOCK


Mutiara Harian

Showing posts with label Poem/Puisi. Show all posts
Showing posts with label Poem/Puisi. Show all posts

Friday, November 25, 2016

PUISI AADC2

Bicara tentang AADC, bicara tentang Cinta dan Rangga, berarti tak bisa lepas dari bicara tentang puisi. Karena puisi mereka bertemu, dengan puisi mereka bersama, dan ada puisi ketika mereka berpisah. Tsah, kenapa aku juga jadi ikutan puitis gini.

Well, di AADC 2, Rangga belum bisa terpisah dari puisi. Sosok penulis yang menciptakan puisi-puisi Rangga adalah seorang penyair bernama Aan Mansyur. Ada 4 puisi yang dibawakan dalam film, tapi bukan dalam versi utuh. 

1. Tidak Ada New York Hari Ini

Ini puisi yang dibacakan ketika Rangga di New York pada awal film. Yang paling mengena adalah bagian

Tidak ada New York hari ini

Tidak ada New York kemarin

Aku sendiri dan tidak berada di sini

Semua orang adalah orang lain

Bahasa Ibu adalah kamar tidurku

Kupeluk tubuh sendiri

Dan Cinta, Kau tak ingin aku

mematikan mata lampu

Jendela terbuka

dan masa lampau memasukiku sebagai angin

Meriang. Meriang. Aku meriang.

Kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang


2. Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta


Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta

kau melihat langit membentang lapang

menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki


Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, 

aku melihat nasib manusia

terkutuk hidup di bumi

bersama jangkauan lengan mereka yang pendek

dan kemauan mereka yang panjang


Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta,

kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung

bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi

dari mata peluru para pemburu


Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta

aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa

kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri


Ketika ada yang bertanya tentang cinta, 

apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata

atau cukup ketidaksempurnaan kita?


3. Batas


Semua perihal diciptakan sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin

Besok batas hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,

bilik penjara, dan kantor wali kota, 

juga rumahku, dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

Begitu pula rindu

Antar pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu 

Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi


Di film, puisi ini adalah puisi yang diberikan Rangga untuk Cinta sebagai permintaan maaf. Saat itu, Cinta marah karena pertanyaan Rangga yang terdengar sinis ketika mereka akan berpisah. Ketika mengantar Cinta pulang ke penginapan, Rangga pun meminta maaf dan berjanji untuk memberikan sesuatu kepada Cinta. Puisi ini diberikan Rangga di Klinik Kopi, salah satu kedai kopi di Jogja. 

Kata Rangga, "Puisi ini saya tulis ketika saya di bandara. Jangan dibaca sekarang".

Cinta membaca puisi ini ketika dia sudah tiba di Jakarta.


4. Akhirnya kau hilang
Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana

Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu

Atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa

Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela berbulan-bulan tidak dibersihkan

Atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan

Atau bangku-bangku taman yang kosong

Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota

Seperti perpustaan sastra

Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang keluar atau terlalu matang

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong

Saat aku pulang dengan kamera di kepala

berisi orang-orang pulung yang tidak ku kenal

Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar

Buku cerita yang belum kelar kau baca

Bertumpuk bagai kayu lapuk di dadaku

Tidak sopan kataku mengerjakan hal-hal tapi tetap kesedihan

Akhirnya kau hilang, kau meninggalkan aku

Dan kenangan ini satu-satunya akar getah yang tersisa

Wednesday, October 26, 2016

RINDU PULANG

Rindu ingin pulang
Pulang ketempat yang ingin dituju
Tidak ada orang sedih
Tidak ada orang marah-marah
Tidak ada orang sakit
Tidak ada orang mengeluh
Tidak ada orang berantem
Bener-bener cuma ingin ibadah bersama
Hanya ada
Orang-orang baik
Tidak ada bayaran apapun
Ketika menuntut ilmu
Ketika ingin makan enak
Aku rindu
Aku ingin pulang


Nurina Utami

Monday, June 15, 2015

REFLEKSI UMUR

Tidak ada yang mengetahui sampai kapan umur kita berada didunia
Tidak ada yang mengetahui kapan kita bahagia atau sedih
Ketika muda masih kuat menjalankan semua aktifitas
Kaki masih bisa berlari, menaiki tangga
Mata masih bisa melihat jelas
Telinga masih bisa mendengar jelas
Tangan masih kuat membawa beban berat
Ketika umur semakin tua
Kulit keriput, mata mulai rabun,telinga mulai tidak jelas,jalan saja terseok-seok bagaimana menaiki tangga
Tenaga mulai melemah,tangan yang kuat sudah tidak mampu lagi membawa beban berat
Digunakan untuk apakah :
Kaki
Tangan
Mata
Telinga kita
Apakah digunakan yang baik seperti :
Ketika muda kaki dipergunakan untuk menaiki tangga mesjid,karena ketika sudah tua sudah tidak sanggup menaiki anak tangga
Ketika muda mata dipergunakan untuk membaca AlQuran, belum tentu nanti ketika tua bisa membaca tulisan AlQuran
Selagi bisa lakukankanlah kebaikan sebanyaknya
Maaf... Maaf...
Nurina Utami

Tuesday, August 19, 2014

KITA SUDAH MERDEKA 17 AGUSTUS 2014

Kita sudah MERDEKA
Bukan berarti kita dalam kebebasan liberal

Kita sudah MERDEKA
Bukan berarti kita menerima Aliran sesat

Kita sudah MERDEKA
Bukan berarti pernikahan sejenis dibolehkan

Kita sudah MERDEKA
Masih banyak yang harus diperjuangkan

Kita sudah MERDEKA
Aturan Alloh tetap harus dijalankan

Kita sudah MERDEKA
Saling tolong menolong kepedulian toleransi harus dilaksanakan

Kita sudah MERDEKA
Kenapa yang tidak benar dilegalkan

Kita sudah MERDEKA
Kenapa menggunakan jilbab dilarang

Kita sudah MERDEKA
Kenapa banyak Aliran sesat yang muncul

Kita sudah MERDEKA
Kenapa ada sumbangan yang mengharuskan pindah Agama

Kita sudah MERDEKA
Kenapa masih tunduk kepada kapitalisme

Kita sudah MERDEKA
Kita sudah MERDEKA

Pihak asing tidak boleh mengontrol bangsa ini
Pihak asing tidak boleh menguasai bangsa ini
Pihak asing tidak boleh menindas bangsa ini
Pihak asing tidak boleh menjajah kembali bangsa ini

INDONESIA MERDEKA
Dari segala bentuk penjajahan

Aamiin

Dari Rakyat Indonesia,
Nurina Utami

Tuesday, September 10, 2013

Puisi 27072013-Ketika rintik hujan membelai punggung rindu

Basah ...
Mengalir melalui selaput mata nan indah
tersaput tapak tangan nan lusuh
Namun masih sembab tersisa pedih
Manakala hujan kembali jatuh

Basah...
Terguyur derasnya hujan membasahi
menjawab mendung yang terhenti
Datang tak datang diam atau pergi
Kembali mencari keindahan pelangi

Titikmu lembut mengalun diujung hari
Bak gerimis yang teriris oleh sepi
Tak ada kawan tiada lawan
Hanya rintik yang ramai bersahutan

Berteduh diderasnya rintikan
Bercengkrama dengan lamunan
Berlari menikmati derasnya hujan
Basah mengguyur tak terlihat kesedihan

Sedianya hendak mengangkangi hari
Apa daya tetes demi tetes lacur meluncur
Seakan menyergap ribuan mimpi
Terbungkam tanpa syarat penawar

Bukan salah hujan yang turun deras
Ketika jejak yang perlahan terhapus
Badan yang merintih gemetar lemas
Membanjiri jalan perlahan terkuras

Pelangi tak mengintip Senja terhening
Tersisa kilat sibuk menjilat tak tenang
Juntai rindu yang tercecer ditanah
Tak rela jika ia meresap tanpa sanggah

Hujan sedemikian hebatkah rindu
Mampu mengecambahkan semua rasa

Puisi 27072013-Ketika rintik hujan membelai punggung rindu


Thanks and best regards,
Elok Akasia Randujati & Nurina Utami

Puisi 04082013-Ketika Jawaban Bercerita

Tanya 
Ia pun datang menghampiri menunggu kalimat pasti 
Menanti datang kekasih hati 

Seru 
Diakhir kalimat bergegas menuruti Memerintahkan yang sudah terpatri 

Dalam goresan luka 
Membisu dengan banyak tanya 
Kalimat menyeru rangkaian kata 
Lepas semua gundah gulana 

Tanya 
Ia menanti ajakan dalam jawaban 

Seru 
Ia memutuskan jalan suatu cerita 


Tanya menunggu seru "kapan kita akan berakhir" 
Seru menjawab "Ketika jawaban bercerita" 

Terinspirasi dari puisi buatan mba Elok, suka banget ama kata titik. Karena mba Elok udah buat titik dan koma. Maka dapat ide untuk buat Tanya dan seru. 


Ini Puisi mba Elok Akasia Randujati judulnya Ketika Jeda Berspasi : 

Koma 
Ia duduk ditengah kalimat dengan tenang 
Menanti kekasihnya datang 

Titik 
Ia pun tak kuasa manakala ia tersudut 
Diujung kalimat tanpa mampu mendekat 

Tak terperi luka itu 
Menahan dekap tak pernah lekat 
Tak terbantah senyap itu 
Walau bejejar selusin kalimat 

Koma 
Ia menunggu jeda 

Titik 
Ia sedang membangunkan spasi 

koma bertanya kepada titik "kapan kita bisa bersatu" 
Titik menjawab "ketika jeda berspasi" 

Note untuk Mba Elok : Mba El, ini tak jadiin puisi tanggal 04082013 ya... Yang puisi tanggal 11082013 on progress masih dipikirin mau tentang apa(karena giliran aku ya, hehehe) 
Puisi 04082013 
Thank You & Best Regard, 
Nurina Utami

Puisi 11082013-Sepenggal Alur Kenangan

Menoleh sesaat ke belekang
Terlihat samar-samar bayangan
Tersenyum merekah menyeka tangisan
Menghampiri sesaat untuk mengenang

Serasa waktu berhenti sejenak
Memberi waktu pada logika
Agar ia mampu berpijak
Tak hanya mengelak jenaka

Kokoh berbalik sesaat berpikir
Logika berpikir kuat berpijak
Perasaan bergejolak teduh berbinar
Ingatan rona rupa yang tak tampak

Nampak sepintas pandora terbuka
Membaurkan cerita lalu
Dimana ia perlahan terkubur
Namun percayalah ia utuh dalam tempatnya
Tak menguap mnyusut apalagi
Ia hanya sedikit menguar
Pertanda ia pernah ada

Silam belajar dan berpikir
Mengakhiri sepenggal Alur
Cerita lalu menjadi kenangan
Yang harus dilupakan meski tak terlupakan

Puisi 09092013 untuk 11082013
Tema : Masa Lalu


Thank You & Best Regards,
Nurina Utami-Elok Akasia Randu Jati

Saturday, November 24, 2012

Puisi : Tanah Surga Katanya

anah Surga .. katanya

Bukan lautan hanya kolam susu .. katanya.
Tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.

Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui .. katanya.
Tapi kata kakekku, ikannya diambil nelayan-nelayan asing.

Ikan dan udang datang menghampirimu .. katanya.
Tapi kata kakekku, ssstt.. ada udang di balik batu.

Orang bilang tanah kita tanah surga .. katanya.
Tapi kata dokter intel, yang punya surga cuma pejabat-pejabat.

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
Tapi kata dokter intel, kayu-kayu kita dijual ke negara tetangga.

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
Tapi kata kakekku, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yg menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.

Puisi dalam film "Tanah Surga .. katanya"

Catatan Saya :
Film tentang perbatasan indonesia dengan malaysia dikalimantan, dimana masyarakat disana rasa Nasionalisme terhadap Indonesia jadi sedikit. Hmm, Jangankan yang dipelosok, yang dikota pun sudah menurun rasa Nasionalismenya. Tapi tenang walaupun munurun pasti akan tetap mencintai tanah ini, tanah air Indonesia...

Salam,
Nurina Utami