CLOCK


Mutiara Harian

Monday, July 25, 2016

Khadijah Binti Khuwailid (Ummul Mukminin)

Dalam perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tiba suatu masa kala duka bertubi-tubi mendera beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kurun itu dikenal dengan istilah ‘amul hazn (tahun duka cita).*
Paman Beliau Meninggal
Bermula dari kondisi paman beliau, Abu Thalib, yang semakin parah. Tak lama kemudian, ajalnya pun datang pada bulan Rajab tahun kesepuluh masa kenabian. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa Abu Thalib meninggal pada bulan Ramadhan, tig...
Lanjutkan Membaca
Dalam perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tiba suatu masa kala duka bertubi-tubi mendera beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kurun itu dikenal dengan istilah ‘amul hazn (tahun duka cita).*

Paman Beliau Meninggal

Bermula dari kondisi paman beliau, Abu Thalib, yang semakin parah. Tak lama kemudian, ajalnya pun datang pada bulan Rajab tahun kesepuluh masa kenabian. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa Abu Thalib meninggal pada bulan Ramadhan, tiga hari sebelum wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Riwayat yang terdapat dalam kitabShahih Bukhari, dari Ibnul Musayyib, menyatakan, “Sewaktu kematian semakin mendekati Abu Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpainya. Pada waktu itu, ada Abu Jahal di sisi Abu Thalib.

Rasulullah berkata, ‘Wahai Paman, ucapkanlah la ilaha illallah; sepotong kalimat yang menjadi hujjah bagimu di hadapan Allah kelak.’

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah angkat bicara, ‘Wahai Abu Thalib! Apakah kamu ingin keluar dari ajaran Abdul Muthalib?’

Mereka berdua terus bilang begitu sampai akhir kehidupan Abu Thalib adalah pada pengajaran dari Abdul Muthalib. '

Mendengar ucapan terakhir paman beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu selama itu tak terlarang.’

Oleh sebab perkataan Rasulullah ini, turunlah ayat,

Siapa yang ada untuk tidak aّbīiّ mereka itu. yang mana yang kau ٓma-dan orang yang anda ingat fi lilmu dan kamu akan melihat iki walaw agar orang-orang yang kamu uٔwlī muah bá-- Ketika kita memberi kepada orang yang kamu lahum abayaّ, aّhum-saya nggak pengen aku pergi, kamu tak pernah putus

' seharusnya tidak bagi nabi dan orang-orang yang percaya kepada ampunan terutama untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang yang musyrik adalah kerabat-nya), sesudah jelas bagi mereka bahwa orang denizens Jahannam. ' (QS. At-Taubah:113)

Diturunkan pula ayat,

Tinggi Elf tidak kau yang diembankan kepada saya ini siapa saya bab anda

" sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu cinta.... '" (QS. Surah Al-Qashash: 5)

Tak perlu lagi dijelaskan tentang perlindungan dan pembelaan Abu Thalib atas diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menjadikan dirinya perisai yang melindungi dakwah Islam dari serangan orang-orang Quraisy, baik dari pembesarnya maupun rakyat kecilnya. Kendati demikian, Abu Thalib mengakhiri hayatnya di atas agama nenek moyangnya. Duhai … sungguh dia merugi!

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘alaih), yang diriwayatkan dari Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau sudah cukup dengan keberadaan pamanmu! Dia melindungimu. Dia marah demi engkau.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia berada dalam kobaran api neraka. Andai bukan dengan sebab aku, sungguh dia sudah berada di lapisan neraka yang paling bawah.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudri; dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara, lalu nama paman beliau (Abu Thalib) disebut-sebut saat itu. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mudah-mudahan syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat. Itu akan membuat kobaran api neraka (sekadar) mencapai kedua tumitnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khadijah Wafat

Selepas Abu Thalib meninggal, berselang dua bulan — atau tiga hari kemudian (menurut pendapat ulama lain), wafatlah sang Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, tahun kesepuluh masa kenabian. Kala itu, umur beliau mencapai 65 tahun – berdasarkan pendapat yang paling kuat – sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah berumur 50 tahun.

Khadijah adalah salah satu karunia Allah yang paling berharga kepada Rasul Shallallahu ' alaihi wa sallam. Dia accompanies dia pada abad keempat ketika waktu penuh kegelisahan menimpa. Dia dia mengokohkan yang sangat berat. Dia yakin dia sebagai datang. Genomik dia membantu dia dengan jihad, yang telah berlalu. Dia membantu dengan harta dan jiwa kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Beriman sementara aba-aba orang, dan sementara aku berbaring qtny orang jahat, dan yang berjalan (menampakkan diri) di ktny ḩrmny ketika orang, zqny allah anaknya dan seorang anak laki - laki lain: v

“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dia menyokongku dengan hartanya ketika orang-orang memboikotku. Dan Allah mengaruniakan anak bagiku dari (rahim)-nya. Padahal dengan (istri-istriku) yang lain, aku tak mendapatkannya.”(HR. Ahmad; hadits shahih)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah. Dia berkata, “Jibril pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan, ‘Wahai Rasulullah! Ini, Khadijah telah datang. Dia membawa bejana berisi bumbu-bumbu, makanan, dan minuman. Jika dia mendatangimu, sampaikan kepadanya salam dari Rabb-nya. Kabarkan pula berita gembira tentang rumah di surga untuknya, yang berbenang emas dan perak, tanpa hiruk-pikuk maupun rasa letih di sana.'”

Tumpukan kedukaan

Telah terjadi dua peristiwa menyedihkan di antara hari-hari yang berganti. Hingga tercampur-aduklah semua duka lara di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Belum lagi musibah yang beliau dapatkan dari kaumnya. Mereka menjadi lancang dan berani terang-terangan menyiksa beliau sepeninggal Abu Thalib.

Duhai, kegelisahan tumbuh-tambah. Siapa saja sampai dia membuatku patah arang untuk mendakwahi generasi Quraisy. Akhirnya Dia Shallallahu ' alaihi wa sallam memutuskan keluar dari Mekkah menuju Thaif. Berharap dia, akan menerima warga Thaif Dakwah Islam. Atau setidaknya mereka membantu dia shallallahu ' alaihi wa sallam untuk menghadapi penolakan dari kaumnya. Bukan yang membantu mengulurkan tangan, bahkan menghajar Thaif Rasul Shallallahu ' alaihi wa sallam dengan jadi dahasyatnya! Bahkan dengan rasa sakit yang tidak pernah ditimpa oleh quraish bahkan setelah.

Penduduk Makkah yang kafir semakin gencar menghimpit Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula terhadap para shahabat beliau. Sampai-sampai, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mendesak Rasulullah untuk berhijrah keluar Makkah. Karena itulah, mereka akhirnya keluar dari Makkah sehingga mereka berjumpa dengan sekumpulan unta yang hendak menuju ke Habasyah. Kemudian Ibnu Ad-Dughunnah mengembalikannya di sisinya.

Tumpukan kedukaan yang bertubi-tubi menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini membuat tahun tersebut disebut sebagai “tahun duka cita” (‘amul hazn). Istilah ini sudah dikenal dalam pelajaran sirah dan tarikh.

Pernikahan dengan Saudah

Bulan Syawal di tahun kesepuluh kalinya nubuwwah, bersandinglah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Sawda binti' ah dalam sebuah perjanjian pernikahan. Saudah termasuk salah satu yang pertama kali dalam Islam. Dia berhijrah untuk mengikuti Habasyah. Sebelumnya, ia bersuamikan as-Sakran bin ' Amr, seorang yang juga berhijrah ke Habasyah dan akhirnya meninggal di sana - atau setelah pulang kembali ke Mekah (menurut pendapat lain, ED. ). Ketika Saudah telah halal untuk menerima pria lain suit, Rasul Shallallahu ' alaihi wa sallam mengusulkan dan menikahinya. Dia adalah wanita pertama yang ia menikah sepeninggal Khadijah.

*) Pengantar dari Redaksi Muslimah.Or.Id

***
Muslimah.Or.Id
Abstracted dari kitab ar-rahiqul makhtum, shafiyurrahman al-Sheikh, Al-Mubarakfury Maktabah Al-Syamilah.
Penyusun: Redaksi Muslimah.Or.Id
Muraja’ah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)



Sumber: https://muslimah.or.id/4641-tahun-duka-cita.html


Suatu hari, seorang nenek datang menemui Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah Anda wahai nenek?”
“Aku adalah Jutsamah al-Muzaniah, ” jawab wanita tua itu.
Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai nenek, sesungguhnya saya mengenalmu. Engkau adalah wanita yang baik hati. Bagaimana kabarmu dan keluargamu. Bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah kita berpisah sekian lama?”
Nenek itu menjawab, “Alhamdulillah kami dalam keadaan baik. Terima kasih, Rasulullah.”
Tak lama kemudian, wanita tua itu pergi meninggalkan Rasulullah SAW. Aisyah RA yang melihat kejadian itu datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, seperti inikah engkau menyambut dan memuliakan seorang wanita tua? Istimewa sekali.”
Rasulullah menimpali, “Ya, dahulu nenek itu selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih hidup. Sesungguhnya melestarikan persahabatan adalah bagian dari iman.”
Setelah kejadian itu, Aisyah mengatakan, “Tak seorang pun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam ketimbang Khadijah. Meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah SAW seringkali menyebutnya. Pernah suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikannya kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.”
Jika hal tersebut disampaikan Aisyah, Rasulullah SAW menanggapinya dengan berkata, “Wahai Aisyah, begitulah kenyataannya. Sesungguhnya darinyalah aku memperoleh anak.”
Pada kesempatan lainnya, Aisyah mengatakan, “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah SAW, sampai-sampai aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah SWT telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?”
Rasulullah SAW menjawab, “Demi Allah SWT, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah SWT menganugerahkan anak kepadaku darinya.”


KISAH KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai. 
Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya.


KHADIJAH BERTEMU MUHAMMAD

Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. 

Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. 

Pada suatu hari iaitu dikatakan sebelum Nabi Muhammad mengambil upah mengetuai rombongan dagangan ke Syam itu, Siti Khadijah dikatakan telah didatangi satu mimpi yang agak aneh dan ini menyebabkan beliau segera menemui sepupunya, pendita atau rahib agama Hanif, Waraqah bin Naufal atau nama penuhnya Waraqah bin Nawfal bin Assad bin Abd al-Uzza bin Qusayy Al-Qurashi.

"Malam tadi aku bermimpi sangat menakjubkan. Aku melihat matahari berputar-putar di atas Kota Mekah, lalu turun ke arah bumi.

"Ternyata matahari itu turun dan memasuki rumahku. Cahayanya yang sangat agung itu membuatkanku terpegun.

"Lalu aku terbangun daripada tidurku itu" kata Siti Khadijah.

Mendengarkan itu, lalu Waraqah berkata; "Aku sampaikan berita gembira kepadamu, bahawa seorang lelaki agung dan mulia akan datang untuk menjadi teman hidupmu.

"Dia memiliki kedudukan penting dan kemasyhuran yang semakin hari semakin meningkat," kata Waraqah.

Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.



Gambar Hiasan


Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?
Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:
Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?
Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam .
Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.


Gua Hira'


KHADIJAH DAN ISLAM

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.
Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur’an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:
“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!”(Al-Muddatstsir:1-7).

Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu ‘anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta’ala:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’ , sedangkan mereka tidak diuji lagi?” . (Al-’Ankabut:1-2).

Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu ‘anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta’ala :
“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan “. (Ali Imran:186).






Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. 
Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: “Demi Allah wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya”.

Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. 

Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.
Di dalam melalui saat-saat sakarat ditemani suami tercinta, Rasulullah SAW. Dalam keadaan kesakitan yang amat itu, dia mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan Jibril juga teruja. 

Katanya, ”Wahai rasul utusan Allah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang bersamaku untuk aku sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku, tulang-tulangku mampu ditukar dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah tulang-tulangku demi kepentingan dakwah yang panjang ini”. 

Rasulullah SAW berasa sayu mendengar semua itu. Jibril naik bertemu Allah. Jibril bertanyakan Allah, adakah Allah mendengar kata-kata Saidatina Khadijah itu? Allah menjawab pertanyaan Jibril – bukan hanya kata-katanya sahaja yang Allah dengari malah bisikannya juga. Allah meminta Jibril menyampaikan salam buat Saidatina Khadijah.

Jibril turun dan memberitahu Rasulullah SAW akan hal itu. Rasulullah SAW menyampaikan salam tersebut kepada isteri tercinta. Ustaz turut menceritakan bahawa dalam sesetengah riwayat tangan Saidatina Khadijah seakan bersilang saat menyambut salam itu dan Saidatina Khadijah melafazkan bacaan yang begitu masyhur yang sering kita lafazkan selepas solat: 
Allaahum ma antas salaam - waminkas salaam
Wa ilaika ya 'uudus salaam
Fahayyina rabbanaa bis salaam
Wa adkhilnal jan nataka daaras salaam
Tabaa rakta rabbanaa wa ta 'aalaita yaa dzal jalaali wal ikraam.
 
Ya Allah, Engkaulah kesejahteraan, dariMulah asal kesejahteraan dan kepadaMu
pula kembali kesejahteraan, maka hidupkanlah aku dengan kesejahteraan dan
masukkanlah aku kedalam surga kampung kesejahteraan. Maha Mulia Engkau
Ya Allah yang memiliki kemegahan dan kemuliaan.  


Dan pergilah Saidatina Khadijah menghadap Allah SWT, kekasih yang dirindui. Terlalu hebat wanita ini. Dialah insan pertama yang mengimani Rasulullah SAW. Tidak cukup dengan harta, tulang-tulangnya juga ingin digunakan untuk membantu perjuangan Rasulullah.

Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. 
Dalam hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. 
Karena itu pula Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid”.


Ya Allah 
ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. 
Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. 
Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.


Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.

Di dalam kerinduan dan kesedihan Rasulullah saw di atas pemergian Abu Thalib dan isterinya tercinta, Allah menggembirakan Rasulullah dengan membawanya naik ke langit di dalam peristiwa Isra' dan Mikraj seterusnya memberikan ibadah teragung iaitu ibadah solat.

Wallahua'lam
Sumber : http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/khadijah-binti-khuwailid.html
Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.
Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.
Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?
Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:
Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?
Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.
Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam .
Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.
Kemudian Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.
Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira’ pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu.Selanjutnya beliay Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata: “Selimutilah aku ….selimutilah aku …”.
Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menjawab:”Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku”.
Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.
Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.
Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: “Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung.Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: “Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah “. Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Apakah mereka akan mengusirku?”. Waraqah menjawab: “Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…”. Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.
Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.
Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.
Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur’an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:
“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!”(Al-Muddatstsir:1-7).
Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu ‘anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta’ala:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’ , sedangkan mereka tidak diuji lagi?” . (Al-‘Ankabut:1-2).
Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu ‘anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta’ala :
“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan “. (Ali Imran:186).
Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: “Demi Allah wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya”.
Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.
Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.
Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid”.
Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.


Tarikh Nabi Muhammad SAW (ke-35)
Sumber : http://tauhiddalamhati.blogspot.co.id/2015/02/meninggalnya-khadijah-istri-nabi-saw.html

4. Meninggalnya Khadijah istri Nabi SAW
Siti Khadijah wafat dalam usia kurang lebih 65 tahun. Adapun lamanya beliau bersuami dengan Nabi SAW kurang lebih selama 25 tahun. Dari perkawinan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah, dapatlah kedua fihak merasakan kenikmatan dan kebahagiaan hidup dari perkawinan itu. Siti Khadijah telah melahirkan enam orang anak, dua laki-laki dan empat perempuan, yaitu sebagai berikut :
1.  Al-Qasim. Inilah putra yang sulung. Sebab itu maka Nabi SAW digelari "Abul Qasim" (Bapaknya Qasim). Gelar atau panggilan yang demikian itu adalah adat kebiasaan bangsa Arab, yakni putra yang sulung itulah yang dipergunakan untuk gelar bagi si ayah. Al-Qasim Meninggal baru berumur kurang lebih dua tahun.
2.  Zainab. Ia setelah dewasa diambil isteri oleh Abul-'Ash bin Ar-Rabi', dan ia meninggal dunia di Madinah pada tahun ke-8 Hijrah.
3.  Abdullah. Putera inilah yang oleh ayahnya (Nabi SAW, diberi gelaran dengan Ath-Thayyib dan Ath-Thahir, dan meninggal dunia waktu masih kecil.
4.  Ruqayyah. Ia setelah dewasa diambil isteri oleh 'Utbah bin Abu Lahab, lalu diceraikan. Kemudian diambil isteri oleh shahabat 'Utsman bin Affan, dan meninggal dunia pada tahun ke-2 Hijrah.
5.  Ummu Kultsum. Ia setelah dewasa diambil isteri oleh 'Utaibah bin Abu Lahab, lalu diceraikan. Kemudian setelah Ruqayyah meninggal dunia, lalu Ummu Kultsum diambil isteri oleh shahabat 'Utsman bin Affan. Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun ke-9 Hijrah.
6.  Fathimah. Ia setelah dewasa diambil isteri oleh shahabat 'Ali bin Abu Thalib, seorang pemuda dari anak paman Nabi SAW sendiri pada tahun ke-2 Hijrah; dan wafat pada tahun ke-11 Hijrah, beberapa bulan sesudah wafatnya Nabi SAW.
Demikianlah kebahagiaan hidup, suasana rukun dan damai yang dilalui Nabi Muhammad SAW selama dalam perkawinannya dengan Siti Khadijah itu senantiasa hidup selama-lamanya di dalam kenangannya. Bahkan sudah bertahun-tahun Siti Khadijah meninggal dunia, kebaikannya senantiasa dikenang dan disebut-sebutnya. Sampai Siti 'Aisyah sendiri, isteri yang amat dikasihi Rasulullah SAW dan yang mempunyai kedudukan istimewa di sisi beliau lebih dari istri-istri yang lain, konon sampai merasa cemburu kepada Siti Khadijah yang telah lama meninggal dunia, lebih cemburu dari pada terhadap madunya yang lain-lain yang masih hidup, karena mendengar sanjungan Nabi SAW yang tak habis-habisnya tentang kebaikan Siti Khadijah isteri yang amat berbudi  itu.
Adapun tentang kematian Siti Khadijah dan Abu Thalib itu mana yang lebih dulu diantara keduanya ? Tentang ini para ulama tarikh ada berselisih pendapat. Sebagian ada yang mengatakan : Siti Khadijah terlebih dulu wafat dan sebulan kemudian Abu Thalib wafat. Dan sebagian yang lain mengatakan : Abu Thalib terlebih dulu wafat. Tetapi menurut keterangan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Bahwa kedua beliau itu wafat 6 bulan kemudian dari hari keluarnya dari pemboikotan di Syi'ib pada tahun ke-10 dari Bi'tsah atau 3 tahun sebelum hijrah. Siti Khadijah wafat tiga hari kemudian dari wafatnya Abu Thalib.
Dengan wafatnya istri dan paman beliau ini, berarti beliau kehilangan tulang punggung yang kuat. Sebab istri dan paman beliau ini sangat berjasa kepada beliau khususnya dan bagi kemajuan dakwah beliau kepada ummat umumnya. Dan disebabkan kedukaan dan kesedihan yang bertubi-tubi ini, beliau sendiri menamakan tahun itu dengan nama 'Aamul Huzni (tahun duka cita).

5. Rasulullah SAW Menikah Dengan Saudah
Sepeninggal isteri beliau Khadijah yang sangat beliau cintai itu, kemudian beliau menikah dengan seorang janda yang bernama Saudah binti Zam'ah.
Saudah adalah seorang wanita bangsa Arab, termasuk keturunan Quraisy. Pada waktu itu ia telah menjadi wanita janda, karena suaminya bernama Sakran bin 'Amr telah meninggal. Ia dan suaminya sejak mengikut seruan Nabi SAW adalah termasuk orang yang terasing, karena diasingkan oleh orang tuanya dan ahli-familinya, yang dikala itu masih sama berkeras kepala, tidak mau mengikut kepada Nabi SAW, bahkan sebagian termasuk orang yang sangat merintanginya. Dan kedua-duanya dikala kaum Muslimin diperintahkan supaya berhijrah ke negeri Habsyi yang ke dua kali, mereka berdua termasuk orang yang ikut berhijrah, karena ke dua-duanya sangat khawatir terhadap kekejaman yang diperbuat oleh familinya yang masih musyrik. Sesudah kedua-duanya kembali pulang ke Makkah, maka tidak lama kemudian Sakran (suami Saudah) meninggal.

Dengan demikian Saudah setelah wafatnya suaminya, maka dengan sendirinya ia tambah terasing lagi, karena ia tetap mengikut seruan Nabi SAW. Oleh sebab itu dirasakanlah oleh Nabi SAW, betapa besar kesengsaraan yang ditanggung oleh Saudah itu.
Maklumlah, sebagai seorang wanita janda yang setia kepada Islam, sedang para familinya dan saudara-saudaranya masih tetap musyrik, bahkan ada pula yang sangat memusuhi tersiarnya Islam. Oleh karenanya sangat terasalah oleh Nabi SAW, bahwa penghidupan sehari-harinya tentu dalam kesempitan dan kesukaran.
Demikianlah, maka dikala itu dengan mufakat orang tuanya, Saudah dinikah oleh Nabi SAW

6. Rasulullah SAW Menikah Dengan 'Aisyah
Kemudian setelah berselang kurang lebih satu bulan dari hari perkawinan Nabi SAW dengan Saudah, lalu beliau menikah pula dengan Siti 'Aisyah binti Abu Bakar. Siti 'Aisyah ialah seorang puteri shahabat Abu Bakar, sedang beliau ini adalah seorang laki-laki yang pertama kali mengikut seruan Nabi SAW dan beriman kepadanya. Dan beliau ini adalah termasuk seorang hartawan besar di kota Makkah pada waktu itu, yang tidak sedikit kekayaannya dikorbankan untuk kepentingan da'wah Islam dan pengikut Islam yang menderita sengsara karena penganiayaan para musyrikin Quraisy.
Di dalam riwayat, perkawinan Nabi SAW dengan Siti 'Aisyah ini terjadi pada bulan Syawwal tahun ke-10 dari kenabian, dan beliau SAW tidak mengawini seorang gadis, melainkan dengan Siti 'Aisyah, yang pada waktu itu masih berumur tujuh tahun, namun Nabi SAW tidak berkumpul dengan 'Aisyah melainkan setelah hijrah di Madinah.

7. Nabi SAW Berangkat Ke Thaif
Thaif ialah sebuah kota terletak di sebelah tenggara kota Makkah dan terkenal tanahnya subur-makmur sejak dahulu. Sebagai seorang manusia, Nabi SAW pun pada suatu saat merasa susah dan sedih. Dikala ditinggalkan wafat oleh kedua orang yang seakan-akan menjadi tulang punggung beliau selama itu, terasalah oleh beliau kedukaan dan kesedihan yang sangat, yang tidak ada taranya,
Setelah ketua-ketua dan pembesar-pembesar Musyrikin Quraisy mengetahui, bahwa beliau tidak lagi mempunyai tulang-punggung yang dapat melindungi diri beliau apabila disakiti dan dianiaya, atau apabila akan diperlakukan secara kejam, maka bertambah sangatlah mereka dalam merintangi dan memusuhi beliau. Setiap hari tidak ada hentinya beliau selalu menerima celaan, cercaan, penghinaan dan berbagai-bagai perbuatan yang menyakitkan diri beliau dari fihak musyrikin Quraisy.
Oleh sebab itu, teringatlah beliau bahwa di kota Thaif ada orang yang masih termasuk famili dekat dengan beliau, yaitu famili tunggal datuk dari keturunan Tsaqif. Dan di kota Thaif itu merekalah yang memegang kekuasaan Mereka itu ialah :
1. Abu Yalil bin 'Amr bin 'Umair Ats-Tsaqafi,
2. Mas'ud bin 'Amr bin 'Umair Ats-Tsaqafi, dan
3. Habib bin 'Amr bin'Umair Ats-Tsaqafi.
Ketiga-tiganya itu adalah brsaudara, dan masing-masing sedang menjabat kekuasaan di kota Thaif.
Dikala itu Nabi SAW berharap, bahwa setelah tiba di Thaif dan dapat bertemu dengan mereka, lalu beliau mengajak mereka itu untuk mengikut seruannya, kemudian akan diajak pula untuk ikut serta menggerakkan seruan (dakwah) beliau di kota itu. Dengan demikian, penduduk kota itu tentu akan segera mengikut seruan beliau, dan selanjutnya akan dapat juga mereka memberikan bantuan untuk kepentingan penyiaran Islam di kota Makkah. Maka ketika itu Nabi SAW berangkat ke Thaif dengan diam-diam bersama Zaid bin Haritsah (bekas budak belian Siti Khadijah yang telah diangkat sebagai anak Nabi SAW) dan dengan berjalan kaki.

Setiba di Thaif, Nabi SAW bersama Zaid bin Haritsah lalu mencari tempat kediaman orang yang ditujunya, yaitu kepala-kepala banu Tsaqif yang sedang menjabat di sana. Selanjutnya, setelah dapat bertemu dengan mereka, beliau lalu menyatakan maksud kedatangannya, yaitu selain untuk menyambung tali kasih sayang dengan mereka, beliau juga menganjurkan (mengajak) kepada mereka masing-masing supaya mengikut Islam.
Setelah mereka mendengar seruan beliau, seketika itu juga mereka marah, sama mencaci-maki dan mendustakan beliau dengan kata-kata yang sangat kasar, lalu mengusir dengan keras, supaya beliau lekas keluar dari rumah mereka, dan pergi dari kota Thaif. Jika tidak mau, beliau diancam akan dibunuh seketika itu juga.

Nabi SAW setelah mendengar celaan, caci-makian dan ancaman mereka, maka beliau langsung meminta diri kepada mereka seraya berkata, "Jikalau kamu tidak mau menerima kedatangan saya kemari, tidak mengapa ! Tetapi janganlah kedatangan saya kemari ini disiarkan kepada orang banyak dari penduduk kota ini".

8. Penganiayaan Penduduk Thaif Kepada Nabi SAW
Selanjutnya, ketika Nabi SAW telah keluar dari rumah mereka, lalu mereka masing-masing memerintahkan kepada anak-anak dan budak belian supaya berteriak-teriak dan mencaci-maki serta menghina beliau. Dengan suara yang keras mereka disuruh memanggil orang banyak yang bertempat tinggal di sekelilingnya, supaya keluar dari rumah mereka masing-masing.
Oleh sebab itu, orang-orang yang tinggal di sekeliling mereka lalu keluar semuanya, dan datang berduyun-duyun akan mengeroyok Nabi SAW.
Kemudian kepala Bani Tsaqif menyuruh orang-orang yang telah datang di halaman rumah mereka supaya berkumpul dan berbaris di kanan kiri jalan yang dilalui Nabi SAW dan mereka supaya serentak mencaci-maki dan mencerca dengan perkataan-perkataan yang keji serta mendustakan Nabi SAW, Dan mereka disuruh melempari dengan batu dan pasir kepada beliau dan shahabatnya yang berjalan bersama beliau.

Karena orang yang menyuruh berbuat demikian tadi adalah orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh, maka sudah tentu perintah itu selalu diikut saja oleh segenap penduduk banu Tsaqif yang ada di kota Thaif. Oleh sebab itu mereka lalu berkumpul dan berbaris di sekeliling jalan yang dilalui oleh Nabi SAW dan Zaid bin Haritsah, dengan serentak mereka berteriak-teriak mencaci maki, mencerca, menghina, mendustakan dan mengancam sambil melempari batu, krikil dan pasir kepada Nabi SAW, sehingga beliau luka parah dan berlumuran darah, sampai beliau dikala itu terpaksa berjalan dengan merangkak karena kesakitan. Setelah beliau kelihatan berjalan dengan merangkak, lalu mereka mengejek, mentertawakan dan mencaci-maki dengan kata-kata yang kasar dan keji.
Demikianlah singkatnya riwayat penganiayaan kaum Banu Tsaqif dan penduduk Thaif terhadap Nabi SAW. Adapun Zaid bin Haritsah ketika itu kepalanya sampai luka parah, dan mencucurkan darah kena lemparan batu.

9. Do'a Nabi SAW Pada Waktu Itu
Setelah perjalanan Nabi SAW bersama Zaid bin Haritsah sampai di halaman kebun atau di balik pagar dari sebuah kebun kepunyaan 'Utbah dan Syaibah (kedua-duanya ini anak Rabi'ah), kedua orang bangsa Quraisy yang sangat memusuhi Nabi SAW di kota Makkah, maka orang-orang yang menganiaya dan melempari dengan batu tadi berhenti, dan mereka berlari bubar semuanya kembali ke rumah mereka masing-masing.
Kemudian Nabi SAW bersama Zaid bin Haritsah berteduh di tempat itu, di bawah pohon anggur sekedar untuk menghilangkan lelah dan jerih payah yang baru saja dirasakan, sambil melihat bengkak-bengkak dan luka-luka yang ada di kedua kaki dan betisnya seraya mengeringkan darah yang masih bercucuran dari kedua kakinya tadi. Tetapi ketika beliau beristirahat di tempat itu, tiba-tiba timbullah perasaan kurang enak dalam hati beliau kalau sampai lama beristirahat di tempat itu. Karena kebun itu kepunyaan 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah, yang kedua-duanya ini adalah termasuk orang yang memusuhi beliau di kota Makkah. Padahal justru pada waktu itu kedua orang musuh Islam itu sedang ada di kebun itu, dan keduanya telah melihat bahwa Nabi SAW sedang ada di balik pagar kebunnya. Kemudian Nabi SAW menengadah ke atas mengadukan kepedihan dan kesengsaraan yang dideritanya itu kepada Allah SWT sambil berdo'a dan menyerahkan diri kepada-Nya. Ucapan beliau itu ialah:
اَللّهُمَّ اِلَـيْكَ اَشْكُوْ ضَعْفَ قُوَّتـِى وَ قِلَّةَ حِيْلَـتِى وَ هَوَانـِى عَلَى الـنَّاسِ يَـا اَرْحَمَ الـرَّاحِمِـيْنَ. اَنــْتَ رَبُّ اْلمُسْتَضْعَـفِـيْنَ. وَ اَنــْتَ رَبـِّى اِلَى مَنْ تَكِـلُـنِى؟ اِلَى بَـعِيْدٍ يَـتَجَهَّمُنِى؟ اَمْ اِلَى عَدُوٍّ مَلَكَـتْهُ اَمْرِيْ؟ اِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلاَ اُبَالِى. وَ لكِنْ عَافِـيَـتَكَ هِيَ اَوْسَعُ لـِى. اَعُوْذُ بِـنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِيْ اَشْرَقَتْ لَهُ الظُّـلُـمَاتُ وَصَلُحَ عَلَـيْهِ اَمْرُ الدُّنــْيَا وَ اْلآخِرَةِ مِنْ اَنْ تُنْزِلَ بِيْ غَضَبُكَ اَوْ يُحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ، لَكَ اْلعُتْـبَى حَتَّى تَرْضَى. وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِكَ.

"Ya Allah, Kepada Engkau-lah aku mengadukan kelemahan kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku dan kehinaanku pada manusia, ya Tuhan yang Maha Penyayang diantara orang-orang yang kasih sayang. Engkaulah Tuhan yang memelihara orang-orang yang lemah dan tertindas, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapa Engkau akan menyerahkan aku, apakah kepada musuh yang jauh yang amat benci kepadaku, ataukah kepada musuh yang Engkau beri kekuasaan terhadapku ? Jikalau Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak perduli, akan tetapi kemurahan Engkau lebih luas kepadaku, (itulah yang aku harapkan). Aku berlindung kepada Nur Wajah Engkau Yang Mulia, yang menerangi semua kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat. Semoga janganlah Engkau menjatuhkan kemarahan Engkau kepadaku atau menimpakan kepadaku kemurkaan-Mu, Engkaulah yang berhak mencaciku sehingga Engkau ridla, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu". [Sirah Ibnu Hisyam juz 2, hal. 268]

Demikianlah bunyi do'a Nabi yang dipanjatkan kehadlirat Allah SWT pada waktu itu, yang di dalam do'a itu jelas berisi keluhan dan penyerahan beliau kepada Allah semata.