CLOCK


Mutiara Harian

Friday, November 25, 2016

PUISI AADC2

Bicara tentang AADC, bicara tentang Cinta dan Rangga, berarti tak bisa lepas dari bicara tentang puisi. Karena puisi mereka bertemu, dengan puisi mereka bersama, dan ada puisi ketika mereka berpisah. Tsah, kenapa aku juga jadi ikutan puitis gini.

Well, di AADC 2, Rangga belum bisa terpisah dari puisi. Sosok penulis yang menciptakan puisi-puisi Rangga adalah seorang penyair bernama Aan Mansyur. Ada 4 puisi yang dibawakan dalam film, tapi bukan dalam versi utuh. 

1. Tidak Ada New York Hari Ini

Ini puisi yang dibacakan ketika Rangga di New York pada awal film. Yang paling mengena adalah bagian

Tidak ada New York hari ini

Tidak ada New York kemarin

Aku sendiri dan tidak berada di sini

Semua orang adalah orang lain

Bahasa Ibu adalah kamar tidurku

Kupeluk tubuh sendiri

Dan Cinta, Kau tak ingin aku

mematikan mata lampu

Jendela terbuka

dan masa lampau memasukiku sebagai angin

Meriang. Meriang. Aku meriang.

Kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang


2. Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta


Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta

kau melihat langit membentang lapang

menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki


Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, 

aku melihat nasib manusia

terkutuk hidup di bumi

bersama jangkauan lengan mereka yang pendek

dan kemauan mereka yang panjang


Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta,

kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung

bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi

dari mata peluru para pemburu


Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta

aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa

kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri


Ketika ada yang bertanya tentang cinta, 

apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata

atau cukup ketidaksempurnaan kita?


3. Batas


Semua perihal diciptakan sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin

Besok batas hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,

bilik penjara, dan kantor wali kota, 

juga rumahku, dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

Begitu pula rindu

Antar pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu 

Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi


Di film, puisi ini adalah puisi yang diberikan Rangga untuk Cinta sebagai permintaan maaf. Saat itu, Cinta marah karena pertanyaan Rangga yang terdengar sinis ketika mereka akan berpisah. Ketika mengantar Cinta pulang ke penginapan, Rangga pun meminta maaf dan berjanji untuk memberikan sesuatu kepada Cinta. Puisi ini diberikan Rangga di Klinik Kopi, salah satu kedai kopi di Jogja. 

Kata Rangga, "Puisi ini saya tulis ketika saya di bandara. Jangan dibaca sekarang".

Cinta membaca puisi ini ketika dia sudah tiba di Jakarta.


4. Akhirnya kau hilang
Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana

Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu

Atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa

Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela berbulan-bulan tidak dibersihkan

Atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan

Atau bangku-bangku taman yang kosong

Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota

Seperti perpustaan sastra

Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang keluar atau terlalu matang

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong

Saat aku pulang dengan kamera di kepala

berisi orang-orang pulung yang tidak ku kenal

Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar

Buku cerita yang belum kelar kau baca

Bertumpuk bagai kayu lapuk di dadaku

Tidak sopan kataku mengerjakan hal-hal tapi tetap kesedihan

Akhirnya kau hilang, kau meninggalkan aku

Dan kenangan ini satu-satunya akar getah yang tersisa

Monday, November 21, 2016

JIKA HATI BAIK



Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat. Rusaknya hati adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya).
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hadits di atas adalah lanjutan dari hadits tentang meninggalkan perkara syubhat yang telah kita kaji sebelumnya.
Tergantung pada Baiknya Hati
Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, -pen), itu semua tergantung pada baiknya hati. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 210.
Para ulama katakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).
Para ulama katakan bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ul ‘Ulum, 1: 210.
Letak Jalan Berpikir adalah Di Hati
Hadits ini juga merupakan dalil bahwa akal dan kemampuan memahami, pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati, bukan di otak (kepala). Demikian disimpulkan oleh Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah.
Apa yang Dimaksud Baiknya Hati?
Para ulama berselisih pendapat mengenai maksud baiknya hati, berikut pendapat yang ada:
1-      Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah dan siksanya.
2-      Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melainkan dengan niat taqorrub pada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari ridho Allah.
3-      Yang dimaksud adalah rasa cinta pada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan.
Intinya, ketiga makna ini semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. Demikian penjelasan guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.
Bagaimana Cara Baiknya Hati?
Guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan semoga Allah memberkahi umur beliau dalam kebaikan dan ketaatan- mengatakan, “Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada siksa-Nya, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, yaitu tidak ada rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak. Karena hati yang memegang kendali seluruh jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaklah meminta pada Allah agar dikaruniakan hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusannya. Sebaliknya, jika rusak, maka tidak baik pula urusannya.” (Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 109).
Karenanya, yang sering Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– minta dalam do’anya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdo’a,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat sesuai syarat Muslim).
Bagaimana Hati Bisa Rusak?
Syaikh Sholih Al Fauzan mengutarakan bahwa rusaknya hati adalah dengan terjerumus pada perkara syubhat, terjatuh dalam maksiat dengan memakan yang haram. Bahkan seluruh maksiat bisa merusak hati, seperti dengan memandang yang haram, mendengar yang haram. Jika seseorang melihat sesuatu yang haram, maka rusaklah hatinya. Jika seseorang mendengar yang haram seperti mendengar nyanyian dan alat musik, maka rusaklah hatinya. Hendaklah kita melakukan sebab supaya baik hati kita. Namun baiknya hati tetap di tangan Allah. Lihat Al Minhah Ar Robbaniyah, hal. 110.
Moga setiap langkah kita senantiasa berada di atas kebaikan.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 213).
Ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala tho’atik (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan). Wallahul muwaffiq.

Referensi:
Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, tahun 1429 H.
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392 H.
Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, terbitan Muassasah Ar Risalah,cetakan kedelapan, tahun 1419 H.
Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol, Asy Syamilah
Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Al Mukhtashor, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1431 H.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 26 Muharram 1434 H


Sumber : https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html

Wednesday, October 26, 2016

RINDU PULANG

Rindu ingin pulang
Pulang ketempat yang ingin dituju
Tidak ada orang sedih
Tidak ada orang marah-marah
Tidak ada orang sakit
Tidak ada orang mengeluh
Tidak ada orang berantem
Bener-bener cuma ingin ibadah bersama
Hanya ada
Orang-orang baik
Tidak ada bayaran apapun
Ketika menuntut ilmu
Ketika ingin makan enak
Aku rindu
Aku ingin pulang


Nurina Utami

Tuesday, October 18, 2016

SCI and I


Disini banyak hikmah dari setiap apa yang didapat. Sedikit demi sedikit dapat mengenal kekasih Allah, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
Gurunda Sirah (ustadz Asep Sobari, Lc) bilang kita belajar sabar disini.
Saya sendiri sedih belum bisa mengamalkan ilmu yang telah beliau sampaikan. Ketika gurunda telah selesai menyampaikan sebenarnya jadi merasa tanggung jawab berikutnya saya harus menyampaikan kembali apa yang gurunda ajarkan.
Afwan ustadz, doakan saya supaya bisa menyampaikannya kembali, aamiin
Semoga bisa ilmu yang sudah didapat dapat bermanfaat untuk orang lain.
Banyak hikmah mempelajari sirah ini.
Barakallahu fiikum

Kalau masih ada ayah ibu pasti ditanyain, mba jangan pulang malem terus, dijaga kesehatannya, dikantor aja pasti udah cape, banyak yang mesti dikerjain sama dipikirin. Jangan ngoyo, kasian badannya. Tapi tetep aja anaknya ga bisa diem, dimana sehabis kerja anaknya ada aktivitas lagi. Apa ga cape mba kayak gitu, kalau dikeluhkan pastilah cape, tapi banyak nilai lebih dibanding pulang cepat dikostan ngelamun, nonton tv, bengong, padahal banyak sich yang harus dikerjain dikostan, nyuci, nyetrika, baca buku, ngobrol sama keluarga, saudara, teman...Tapi sukanya mendengarkan dan datang langsung. Pengennya kuliah lagi ambil S2,S3(tapi cuma mimpi) lihat biayanya aja langsung give up, ga ada uang buat bayar dan ga punya prestasi untuk dapat beasiswa, cm punya modal semangat belajar (kadang semangatnya jg turun). Dulu taunya Matematika, Biologi, Kimia, Bahasa, Geografi, dll. Ternyata mempelajari Islam itu lebih menarik dari semua itu ada Sirah, Tahsin, ilmu hadist, tafsir, fiqih, Bahasa Arab tentang sharaf, Nahwu,(ini yang belum belajar) Pengen belajar terus, seneng belajar, dll terus kapan mau diamalkan ilmunya, sabar.. ga tau kapan bisa mengamalkannya sedih juga sich, semoga ilmunya dapat bermanfaat dan berkah. Cuma pengen jadi orang yang bermanfaat dan berkah. Walau banyak banget dosa yang diperbuat, semoga Allah ridho mengampuni. Kenapa senang belajar karena pengalihan pikiran ketika memikirkan ditanya kapan menikah(ini susah jawabnya, pengennya segera) tapi yang berkehendak Allah jadi pengalihannya ke belajar aja. Terima kasih buat semua yang sudah pengertian dan mohon maaf jika waktunya jadi berkurang (Terutama buat Keluarga, tapi masih tau waktu harus bagaimana), Terima kasih buat rekan-rekan dikantor suka pulang cepat karena kerjaannya sudah diselesaikan dengan tenaga extra, kalau belum selesai juga biasanya lembur juga, waktu fleksibel koq, karena waktu bisa diatur dan kita yang tentukan mau apa dan bagaimana. Mohon maaf atas kesalahan yang banyak tidak dapat disebutkan, mohon maaf belum diamalkan, mohon maaf jika was-was dan khawatir, yang kasihan sebenarnya bapak atau ibu kost atau penjaga kost atau satpam pintu masuk atau temen kostan yang suka tidurnya diganggu buat bukain pintu, nie anak pulang malam terus, mohon dimaafkan walau mereka ga mungkin baca tulisan ini, mohon dimaafkan, doakan selalu dalam kebaikan. Mohon maaf lahir batin
Allahummaa aamiin
Barakallahu fiikum
(Semoga Berkah)
Nurina Utami
18 Oktober 2016

Monday, October 17, 2016

Bergerak atau Tergantikan





Bergerak atau tergantikan
Saya belum tau apakah kata dijudul itu ada hadistnya atau tidak.
Setiap orang akan bergerak selama mereka masih hidup didunia
Setiap aktivitas yang dilakukan itu dinamakan bergerek
Sedang untuk orang yang sudah meninggal, tidak bisa bergerak lagi mereka akan berhenti dan segala aktivitasnya akan tergantikan.
Kamu akan tergantikan jika kamu tidak bergerak
Orang yang masih hidup tidak akan tergantikan dengan yang lainnya
teruslah bergerak untuk melakukan kebaikan.
Jangan pernah berhenti atau gentar karena posisi yang selalu ada perubahan atau bahkan posisi itu sudah tidak ada lagi.
Jangan pernah berhenti walau berjalan sendiri dalam kebaikan
Sejatinya tidak akan pernah sendiri
Jika keluargamu dan sahabatmu mengerti dia tidak akan meninggalkan untuk sendiri
Mereka hanya memberi ruang dan waktu untuk istirahat dalam bergerak
Jangan berpikiran macam-macam yang merusak pikiranmu
Coba menerima dengan lapang dada dan positive thinking
Semua yang baik akan bermuara pada yang baik
Terus bergerak jika masih hidup, jangan takut untuk tergantikan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ
Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.
[HR al-Bukhâri (al-Adabul -Mufrad no. 239) dan Abu Dâwud no. 4918 (ash-Shahîhah no. 926)]
Kalau seorang biasa berkumpul dengan seseorang yang hobinya berjudi, maka kurang lebih dia seperti itu juga. Begitu pula sebaliknya, kalau dia biasa berkumpul dengan orang yang rajin shalat berjamaah, maka kurang lebih dia seperti itu.
Allah Azza wa Jalla menciptakan ruh dan menciptakan sifat-sifat khusus untuk ruh tersebut. Di antara sifat ruh (jiwa) adalah dia tidak mau berkumpul dan bergaul dengan selain jenisnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan hakekat ini dengan bersabda:
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah).
[HR al-Bukhâri no. 3336 dan Muslim no. 6708]
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni, dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (QS. al-Baqarah: 45-46)
“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah: 153)
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 2-3)
Nurina Utami
17 Oktober 2016

Thursday, October 13, 2016

Shalat Jenazah Dari Kejauhan (Shalat Ghaib)

SHALAT JENAZAH DARI KEJAUHAN (SHALAT GHAIB)
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Barangsiapa meninggal dunia di negara di mana di dalamnya tidak ada orang yang menshalatkannya dengan kehadiran secara langsung, maka orang seperti ini dapat dishalatkan oleh sekelompok kaum muslimin dengan shalat Ghaib. Hal itu berdasarkan pada shalat Ghaib yang dilakukan oleh Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam terhadap raja An-Najasyi yang telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat beliau, yang sebagian saling menambahkan sebagian lainnya.
Dan saya pun telah menghimpun hadits-hadits mereka mengenai hal tersebut lalu saya menyitirnya dalam satu redaksi sebagai upaya mendekatkan faidah. Dan redaksi hadits Abu Hurairah adalah sebagai berikut.
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang ketika itu sedang berada di Madinah) pernah mengumumkan berita kematian an-Nasjasyi (Ashhamah) (raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya. (beliau bersabda : “Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia –dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Pada hari ini, hamba Allah yang shalih telah meninggal dunia) (di luar daerah kalian) (karenanya, hendaklah kalian menshalatinya)”, (Mereka berkata : “Siapakah dia itu?” Beliau menjawab : “an-Najasyi”) (Beliau juga bersabda : “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”). Perawi hadits ini pun bercerita : Maka beliau berangkat ke tempat shalat (dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Ke kuburan Baqi). (Setelah itu, beliau maju dan mereka pun berbaris di belakang beliau (dua barisan) (dia bercerita : “Maka kami pun membentuk shaff di belakang beliau sebagaimana shaff untuk shalat jenazah dan kami pun menshalatkannya sebagaimana shalat yang dikerjakan atas seorang jenazah). (Dan tidaklah jenazah itu melainkan diletakkan di hadapan beliau)” (Dia bercerita : “Maka kami bermakmum dan beliau menshalatkannya). Seraya bertakbir atasnya sebanyak empat kali”.
Diriwayatkan oleh al Bukhari (III/90,145,155 dan 157), Muslim (III/54), dan lafazh di atas miliknya. Juga Abu Dawud (II/68-69), an Nasa’i (I/265 dan 280), Ibnu Majah (I/467), al-Baihaqi (IV/49), ath-Thayalisi (2300), Ahmad (II/241, 280, 289, 348, 438, 439, 479,539) melalui beberapa jalan dari Abu Hurairah.
Perlu juga diketahui bahwa shalat Ghaib yang kami sebutkan diatas bukan yang dikandung oleh hadits lainnya. Oleh karena itu, kami telah didahului oleh sekumpulan muhaqqiq madzhab untuk memilihnya. Berikut ini ringkasan dari ungkapan Ibnul Qayim rahimahullah dalam masalah ini. Di dalam Kitab Zaadul Ma’aad (I/205-206) beliau mengatakan.
“Bukan petunjuk dan sunnah Rasulullah ShallallaHu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakan shalat ghaib bagi setiap orang yang meninggal dunia. Sebab, cukup banyak kaum muslimin yang meninggal dunia sedangkan mereka jauh dari Rasulullah, namun beliau tidak menshalatkan mereka dengan shalat ghaib. Dan diriwayatkan secara shahih dari beliau bahwa beliau telah menshalatkan shalat jenazah atas an-Najasyi. Lalu muncul perbedaan pendapat mengenai hal tersebut dalam tiga jalan :
1). Yang demikian itu merupakan syari’at sekaligus sunnah bagi ummat Islam untuk mengerjakan shalat ghaib atas setiap muslim yang meninggal dunia di tempat yang jauh. Dan hal itu merupakan pendapat asy Syafi’i dan Ahmad.
2). Abu Hanifah dan Malik mengemukakan, ‘Yang demikian itu khusus baginya saja dan tidak untuk yang lainnya’.
3). Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, ‘Yang benar adalah bahwa orang yang bertempat tinggal jauh dan meninggal dunia di suatu negara yang tidak ada seorang pun yang menshalatkan di negara tersebut, maka dia perlu dishalatkan dengan shalat ghaib, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas jenasah an-Najasyi, karena dia meninggal di tengah-tengah orang-orang kafir dan tidak ada yang menshalatkannya.Seandainya dia sudah dishalatkan di tempat dia meninggal dunia, maka dia tidak dishalatkan dengan shalat ghaib atas jenazahnya. Sebab, kewajiban itu telah gugur dengan shalatnya kaum muslimin atas dirinya. Dan NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat ghaib dan meninggalkannya. Sedang apa yang dikerjakan dan apa yang beliau tinggalkan merupakan sunnah. Dan ini menempati porsinya masing-masing. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Dalam Madzhab Ahmad, terdapat tiga pendapat dan yang paling shahih diantaranya adalah rincian ini’”
Saya katakan : Ini menjadi pilihan sebagian muhaqqiq dari pada penganut madzhab asy-Safi’i. Di dalam kitab Ma’aalim as-Sunan,al-Khaththabi mengatakan, yang dikemukakan sebagai berikut:
Perlu saya sampaikan : “An-Najasyi adalah seorang muslim yang telah beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenarkan kenabian beliau, hanya saja dia menyembunyikan keimanannya. Dan seorang muslim jika meninggal dunia, maka kaum muslimin berkewajiban untuk menshalatkannya, kecuali jika dia berada di tengah-tengah kaum kafir, sedang dia tidak ada seorangpun yang ada di sekitarnya yang mau menshalatkannya, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan diri untuk mengerjakan shalat tersebut, karena beliau merupakan Nabi sekaligus walinya serta yang paling berkewajiban melakukan hal tersebut. Demikianlah –wallahu a’lam- sebab yang mendorong Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakan shalat jenazah dari kejauhan (shalat Ghaib)”.
Berdasarkan hal tersebut, maka jika ada seorang muslim meninggal dunia di salah satu Negara, lalu kewajiban shalat jenazah atas dirinya sudah ditunaikan, maka tidak perlu lagi orang lain yang berada di negara lain untuk mengerjakan shalat Ghaib untuknya. Dan jika dia mengetahuinya bahwa yang meninggal tersebut tidak dishalatkan karena adanya rintangan atau alasan yang menghalanginya, maka disunnahkan untuk menshalatkannya dan hal itu tidak boleh ditinggalkan hanya karena jarak jauh.
Dan jika mengerjakan shalat atas jenazahnya, maka mereka harus menghadap kiblat dan tidak perlu menghadap ke arah negara jenazah itu berada jika negara tersebut terletak tidak searah dengan kiblat.
Sebagian ulama memakruhkan shalat Ghaib atas seorang jenazah. Mereka mengklaim bahwa apa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya khusus bagi beliau saja, karena beliau berhukum sama seperti orang yang menyaksikan an-Najasyi. Yang demikian itu didasarkan pada apa yang diriwayatkan dalam beberapa kabar : ‘Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat an-Najasyi berada {1].
Yang demikian itu merupakan penafsiran yang salah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengerjakan suatu perbuatan yang berhubungan dengan syari’at maka kita harus mengikuti dan menirunya. Dan pengkhususan itu tidak dikenal kecuali dengan dalil. Dan di antara yang menjelaskan hal tersebut adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi bersama orang-orang ke tempat shalat, lalu beliau membuat barisan bersama mereka, lalu mereka pun shalat bersama beliau, dengan demikian dapat diketahui bahwa penafsiran ini salah. Wallahu a’lam.
Ar-Ruyani –seorang penganut madzhab asy-Syafi’i juga- secara baik menyampaikan pendapat yang sama seperti pendapat al-Khaththabi, yang ia juga merupakan pendapat Abu Dawud, di mana dia menerjemahkan hadits tersebut di dalam kitab Sunannya melalui bab tersendiri yang dibuatnya, yaitu “Bab fii ash-Shalaah ‘alaal Muslimi Yamuutu fii Bilaadi asy-Syirk (bab Shalat Jenazah Atas Orang Muslim Yang Meninggal Dunia Di Negara Orang Musyrik)”. Dan pendapat tersebut menjadi pilihan Syaikh Shalih al-Maqbili, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Nailul Authar (IV/43). Dalam hal itu dia berdalilkan pada tambahan yang tedapat pada beberapa jalan hadits.
“Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia di luar negeri kalian, karenananya bangkit dan kerjakan shalat atas jenazahnya”. Dan sanadnya shahih berdasarkan syarat asy-Syaikhan.
Dan di antara yang memperkuat tidak disyariatkannya shalat Ghaib bagi setiap orang yang meninggal di tempat yang jauh adalah riwayat yang menyebutkan, ketika para Khulafa-ur Rasyidin dan juga yang lainnya meninggal dunia, tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang mengerjakan shalat Ghaib atas mereka. Seandainya mereka mengerjakan hal tersebut, sudah barang tentu nukilan dari mereka mengenai hal tersebut benar-benar mutawatir.
Sekarang perbandingkanlah hal tersebut dengan apa yang sekarang banyak dilakukan oleh kaum muslimin sekarang ini, di mana mereka mengerjakan shalat Ghaib bagi setiap orang yang meninggal di tempat yang jauh, apalagi jika orang yang meninggal tersebut memiliki kedudukan dan nama baik sekalipun hanya dari sisi politik saja dan tidak diketahui kepedulian dan pengabdiannya terhadap Islam. Jika meninggal dunia di tanah suci Makkah lalu dishalatkan secara langsung oleh ribuan kaum muslimin pada musim haji. Bandingkan apa yang kami sebutkan dengan shalat yang seperti ini, niscaya secara yakin anda akan mengetahui bahwa yang demikian itu bagian dari bid’ah yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan madzhab Salaf Radhiyallahu ‘anhum.
[Disalin secara ringkas dari kitab Ahkamul Janaaiz wa Bida’uha, Edisi Indonesia Hukum Dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Al-Qur’an dan Sunnah hal. 216-223, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah M.Abdul Ghoffar EM, Penerbit Puskata Imam Asy-Syafi’i]
__________
Foote Note
[1]. Di dalam kitab al-Majmuu (V/253), Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa kabar ini hanya merupakan khayalan-khayalan belaka. Kemudian dia menyebutkan hadits al-Ala bin Zaidal mengenai pelipatan bumi ini bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau dapat pergi dan mengerjakan shalat tas jenazah Mu’awiyah bin Mu’awiyah di Tabuk. Dan dia mengatakan bahwa ia merupakan hadits dhaif yang dinilai dha’if oleh para Huffazh, yang diantaranya adalah al-Bukhari dan al-Baihaqi.

Saya ingatkan kembali kepada anda bahwa Cara Shalat Ghaib sendiri sama dg Cara Shalat Jenazah hanya saja Cara Mengerjakan Shalat Ghaib – Pengertian Shalat Ghaib ialah Shalat yg dilakukan ketika ada salah satu keluarga anda atau kerabat atau siapapun seorang Muslim yg meninggal dunia tetapi meninggalnya tersebut di tempat yg jauh dari anda maupun sanak keluarganya maka disunahkan kita untuk melakukan Shalat ini atas mayat tersebut walaupun meninggal-nya sang mayat sudah lewat seminggu atau lebih.
Hukum Mengerjakan Shalat Ghaib ini adalah sunah yg jika dilakukan mendapatkan pahala dan jika tidak melakukan maka tak dosa. Sedangkan untuk Waktu Shalat Ghaib tersebut bisa dilakukan kapan saja baik siang dan malam baik sendiri maupun secara Mak’mum, tetapi lebih Shalat ini lebih baik dilakukan atau dikerjakan secara bersama – sama sehingga pahala yg di dapatkan oleh sang mayat menjadi lebih banyak.
Manfaat Shalat Ghaib ini sendiri adalah untuk mendapatkan pahala yg banyak, seperti sabda Nabi Muhammad Saw yg berbunyi, ” Barang Siapa yg mengiringi Jenazah dan Turut menshalatkan maka dia akan memperoleh pahala yg sebesar 1 Qirath (Gunung Besar) HR. Muttafaq ‘ Alaih ”. Sholat Ghaib sama persis dg Shalat Jenazah hanya saja Sholat Ghaib ini dilakukan ketika sang mayat berada jauh diluar sana.
Kemudian untuk Cara Mengerjakan Shalat Ghaib ini masih sama dg Shalat Jenazah baik cara dan doanya, yang dikerjakan dg 4 (Empat) takbir dan yg diakhiri dg salam (berdiri) hanya saja terdapat perbedaan Lafal pada Niat Shalat Ghaib ini. Sedangkan untuk Niat Shalat Ghaib, Doa Shalat Ghaib dan Cara Shalat Ghaib ini sudah kami buat dibawah sehingga anda bisa langsung mempelajarinya sendiri

Niat, Doa Dan Cara Mengerjakan Shalat Ghaib

terdapat perbedaan Bacaan Niat Shalat-nya setelah itu jumlah takbir ada 4 (Empat) Takbir dan Bacaan Doa Shalat Ghaib setelah takbir jg sama persis dg Shalat Jenazah.

Bacaan Niat Shalat Ghaib, ”’ USHALLI ALAL MAYYITIL GHAAIBI AR-BA’A TAKBIIRAATIN FARDLAL KIFAAYATI (MA’MUUMAN / IMAAMAN) LILLAAHI TA’AALAA, ALLAAHU AKBAR ”’. Untuk Niat Shalat Ghaib diatas bisa ditambahkan dg nama si mayat itu sendiri seperti contoh, ”” USHALLI ALAL MAYYITI (Fulan) AL GHAAIBI AR-BA’A TAKBIIRAATIN FARDLAL KIFAAYATI LILLAAHI TA’AALAA, ALLAAHU AKBAR ””.
Setelah anda membaca Bacaan Niat Shalat Ghaib seperti diatas maka anda tinggal mengucakan Allahu Akbar atau Takbir Pertama, kemudian tinggal membaca Surat Al Fatihah pada Takbir Pertama tersebut.
doa sholat Ghaib Surat Al Fatihah takbir pertama
Setelah membaca Surat Al Fatihah, maka kembali mengucapkan Allohu Akbar atau Takbir Kedua dan setelah itu anda membaca Doa Shalat Ghaib Shalawat Nabi Muhammad Saw
doa sholat Ghaib Shalawat nabi takbir kedua
Setelah membaca Doa Shalat Ghaib Shalawat Nabi maka kembali mengucapkan Allahu Akbar atau Takbir Ketiga dan kemudian anda membaca Doa Sholat Ghaib seperti dibawah ini
doa sholat Ghaib takbir ketiga
Kemudian setelah anda membaca Doa di atas, anda mengucapkan Takbir Keempat atau Takbir Terakhir dan setelah Takbir Keempat ini anda membaca Doa seperti ini, ” ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHU WALAA FAF-TINNAA BA’DAHU WAGHFIR LANAA WALAHU ”.
Setelah membaca doa setelah Takbir Keempat maka tinggal memberi Salam atau memalingkan muka arah kanan dan ke kiri sambil mengucapkan bacaan ” Assalaamu A’laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh ”.
Lalu tinggal anda membaca Bacaan Doa Setelah Shalat Ghaib seperti dibawah ini
doa setelah shalat ghaib lengkap
Terjemahan Doa Setelah Shalat Ghaib diatas, ”’ Ya Alloh, Curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw dan kpd keluarga Nabi Muhammad Saw. Ya Alloh, dg berkahnya surat Al Fatihah, bebaskan-lah dosa kami dan dosa mayat inni dari siksaan api neraka ”.
” Ya Alloh, Curahkanlah rahmat dan berikanlah ampunan kpd mayat ii. Dan jadikanlah tempat kubur-nya taman nyaman dari sorga dan janganlah Engkau jadikan kubur-nya itu lubang jurang neraka. Dan semoga Alloh memberikan rahmat kpd semulia – mulia makhluk-nya yaitu junjungan kami Nabi Muhammad Saw dan keluarga-nya serta sahabat2nya sekalian, dan segala puji bagi Alloh Tuhan seru sekalian alam ”.
Sumber : 
1. http://rukun-islam.com/cara-mengerjakan-shalat-ghaib/
2. https://almanhaj.or.id/2492-shalat-jenazah-dari-kejauhan-shalat-ghaib.html