CLOCK


Mutiara Harian

Tuesday, May 16, 2017

SIAPAKAH BILAL BIN RABAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا
Robbi zidni ‘ilma warzuqni fahma
( Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berilah aku kefahaman )

SIAPAKAH BILAL BIN RABAH?
Bilal bin Rabah (Bahasa Arab بلال بن رباح) . Bilal lahir di daerah as-Sarah, Mekah sekitar 43 tahun Sebelum Hijrah, 3 Tahun setelah tahun gajah (Jadi Terpaut 3 Tahun dari Rasulullah Saw. Berasal dari Habasyah (Ethopia). Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
SAHABAT NABI SAW
•Bilal bin Rabah termasuk as-Sabiqunal awwaalun (orang-orang yang menyatakan keislaman di masa-masa awal dakwah Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam ).
•Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan, “Orang-orang yang pertama kali menampakkan keislaman mereka ada tujuh yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , Abu Bakar Radhiyallahu anhu , ‘Ammar dan Ibunya yaitu Sumayyah, Suhaib, Bilal dan Miqdad” (HR Ibnu Mâjah, hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah).
SIKSAAN YANG DIALAMI BILAL
Begitu berat siksaan yang dialami Bilal Radhiyallahu anhu . Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu mengatakan, “Semua para budak yang disiksa terpaksa mengikuti apa kemauan orang-orang musyrik kecuali Bilâl Radhiyallahu anhu . Sesungguhnya dia memandang dirinya hina di hadapan Allah Azza wa Jalla .” Berbagai cara ditempuh untuk melemahkan iman Bilâl, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Amr bin al ‘Ash menceritakan, “Aku pernah melewati Bilâl Radhiyallahu anhu dalam keadaan disiksa di padang pasir. Seandainya sepotong daging diletakkan di atasnya, pasti daging itu bisa matang. Ketika itu Bilâl Radhiyallahu anhu mengatakan, “Saya mengingkari al-Lâta dan Uzza.” (Ansâbul Asyrâf 1/185. Lihat as-Sîratun-Nabawiyah fî Dhau-il Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 188)
Saat mengetahui keislaman Bilâl bin Rabâh Radhiyallahu anhu , majikannya yaitu Umayyah bin Khalf berusaha menekan beliau Radhiyallahu anhu agar kembali kepada keyakinan nenek moyang mereka. Penekanan yang dilakukan tidak sebatas dengan kata-kata, tapi sampai pada penyiksaan fisik. Orang-orang kafir selalu menyiksa beliau dengan mengeluarkannya ke tengah padang pasir saat terik matahari, waktu yang menjadikan padang pasir seakan seperti padang api yang sangat panas, mereka melemparkan Bilal dengan bertelanjang di atas pasir yang terik, kemudian menindihkannya dengan batu yang sangat besar yang diletakkan di atas tubuhnya, dan penyiksaan yang kejam ini terus berulang setiap hari, namun Bilal tetap bersabar dan tabah dalam berpegang teguh terhadap agamanya, kemudian berkata Umayah bin Kholaf kepadanya : “Engkau akan terus seperti ini hingga mati atau engkau tinggalkan Muhammad, dan kembali menyembah Latta dan Uzza.” Namun Bilal tetap bersikukuh dan hanya dapat berkata : “Ahad, Ahad”.
•Dalam hadits yang shahîh, Bilal Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Bakr Radhiyallahu anhu :
إِنْ كُنْتَ إِنَّمَا اشْتَرَيْتَنِي لِنَفْسِكَ فَأَمْسِكْنِي وَإِنْ كُنْتَ إِنَّمَا اشْتَرَيْتَنِي لِلَّهِ فَدَعْنِي وَعَمَلَ اللَّهِ
•Jika engkau membeli diriku untuk menjadi milikmu, maka tahanlah aku. Dan jika engkau membeli diriku karena Allah, maka biarkanlah aku berbuat karena Allah.
(Riwayat al-Bukhâri/ Al-Fath (14/249/no. 5537). Lihat as-Sîratun-Nabawiyah fî Dhau-il Mashâdiril Ashliyyah, hlm. 189)
•Abu Bakar membebaskan Bilal dengan membelinya dari Umayyah bin Khalf .

TEROMPAH BILAL
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ يَعِيشَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلَالٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا فِي الْإِسْلَامِ أَرْجَى عِنْدِي مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لَا أَتَطَهَّرُ طُهُورًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلَا نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي أَنْ أُصَلِّيَ
Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yg paling besar pahalanya yg pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ' Bilal menjawab; 'Ya Rasulullah, sungguh saya tak mengerjakan amal perbuatan yg paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dgn sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain (HR. Muslim No.4497)
ORANG PERTAMA YANG MENGUMANDANGKAN ADZAN
•Dia merupakan sahabat Nabi yang dipilih untuk mengumandangkan azan. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun pertama Hijriah.
•Dari Zaid bin Arqam berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
•نعم المرء بلال، هو سيد المؤذنين، ولا يتبعه إلا مؤذن، والمؤذنون أطول الناس أعناقًا يوم القيامة
“Iya, orang itu adalah Bilal, pemuka para muadzin dan tidaklah mengikutinya kecuali para muadzin. Para muadzin adalah orang-orang yang panjang lehernya di hari kiamat.”
•Setelah berhijrah ke Madinah. Beliau Radhiyallahu anhu memiliki suara yang lantang, sehingga Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam memilih beliau untuk mengumandangkan adzan pertama kali ketika adzan disyari’atkan. Dan dalam banyak kesempatan Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam sering menyuruh beliau Radhiyallahu anhu untuk mengumandangkan adzan. Itulah Bilâl bin Rabâh Radhiyallahu anhu , hamba sahaya yang selanjutnya berubah menjadi Muslim yang taat dan dijanjikan masuk surga. Dalam sebuah riwayat yang shahîh dinyatakan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلاَلٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِي اْلإِسْلاَمِ أَرْجَى عِنْدِيْ مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لاَ أَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلاَ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah bersabda kepada Bilal setelah menunaikan shalat subuh, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ Bilal radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’ (HR. Muslim).
WAFATNYA BILAL
•Ketika ajal telah dekat, Bilal memanggil istrinya dan berkata, “Alangkah gembiranya aku, besok aku akan berjumpa dengan kekasihku, Rasulullah dan sahabatnya.”
•Bilal wafat di Damaskus pada tahun 20 H. Saat itu ia berusia 60 tahun.
•Semoga Allah merahmati dan meridhaimu wahai muadzin Rasulullah
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,
“Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti ,Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil, Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah ,Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil”
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..BiIal, “pengumandang seruan langit itu."
Menjelang saat-saat kematiannya, pada saat itu Bilal berada di Damaskus. Istrinya berkata “Benar-benar suatu duka.” Tapi Bilal berkata “Tidak. Katakanlah: Benar-benar kebahagiaan, karena besok aku akan menemui Rasulullah S.A.W. dan para sahabat.”
Dapatkah kalian bayangkan, seberapa besar imannya? Dia sedang sekarat, tapi malah merasa senang karena dengan meninggalkan dunia, maka dia akan bertemu dengan Rasulullah. Karena Rasulullah S.A.W. bersabda “Dunia ini adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan surga bagi orang-orang kafir.”
Wallahu’alam Bishowab
Barakallahu Fiikum
Semoga bisa diambil hikmah dan ibrohnya(Semangatnya)
Jazaakumullahu Khairan Katsiran

Friday, February 10, 2017

MULTAZAM (PINTU KABAH)

Multazam (Pintu Ka'bah)
Mencari tempat terbaik dirumah Allah, akhirnya mendapatkan tempat itu dibawah basement depan multazam dan dekat dengan keran-keran air zam-zam. Disitu memang penuh sekali, dari berbagai negara selalu ingin sholat disitu karena terlihat jelas multazamnya. Kenalan sama 2 nenek turki (dia ngomong pake bahasa turki dan diajak ngomong bahasa inggris cuma senyum atau jawab tetap bahasa turki, mana saya paham, belum pernah belajar bahasa turki). Ngobrol-ngobrol dan saya bilang I want to go to Turki please dua for me, nenek tersebut menjawab insyaaAllah, see mustafa kata dia, sempet loading apa itu mustafa, aha saya liat nenek itu menggerakan tangannya seperti orang menari, oh i see mustafa, tarian turki itu. Karena saya selalu bawa cookies didalam tas, saya beri nenek itu dan nenek pun memberikan campuran-campuran berbagai macam kacang (enak banget, alhamdulilah), nice to meet you. Sebelah kiri orang Turki, sebelah kanan orang Malaysia namanya makcik latifa, ga begitu susah ngobrol karena sama-sama dari melayu, dia kasih kue sama diambilin air zam-zam. Dia sama keluarganya dari Malaysia dan sudah ke Thaif, katanya di Thaif buahnya besar-besar dan udaranya sejuk. Kita belum diizinkan Allah untuk ke Thaif Qadarullahu, dengan alasan penjaga check pointnya kalau mau ke Thaif harus visa wisata bukan visa umroh, hikss sedih tapi pasti ada hikmah dibalik semuanya, Semoga Allah izinkan tinggal dirumahNya dan kota Nabi.
Sholat jumat minggu kemarin. Dengan terik matahari yang menyengat kulit. Kenalan sama orang jeddah (lupa namanya, ayu inget ga Ryu Stik) dia punya 9 anak, cucunya lupa ada berapa, 5 cicit, pokoknya banyak, berkahnya memiliki anak banyak, ada yang jadi dokter, guru, dll. Ibu itu kelihatan masih muda, kenalan dengan bahasa arab dan inggris seadanya. Si ibu dikasih tolak angin sama ayu, dia bilang enak dan bungkusnya dia simpan untuk dicari dijeddah atau dicari diinternet komputer ketika dirumah.Dan memang kita menunggu sholat jumat dengan panas terik matahari yang menyengat, saya pun sempat tak tahan karena panasnya membuat mimisan. karena gelisah ibu tadi menasehati : Sabar...Sabar... ini panasnya tidak seberapa dari neraka, ini panasnya insyaaAllah mendapat surgaNya.(padahal dia nasehatinnya pake bahasa arab, tapi inti nasehatnya begitu). Langsung jadi adem ibu itu menasehatin begitu, sambil menatap multazam yang teringat hanyalah berdoa, ya berdoa, berdoalah. Selain itu ada anak kecil perempuan sekitar 2 tahun namanya amira, lucu banget anaknya, di kasih biskuit regal dia suka. Ibunya seperti keturunan pakistan/india dan sekarang tinggal di Amerika. Disana dirumah Allah banyak menjumpai orang-orang dari berbagai negara, senangnya. Islam dalam satu tempat dari berbagai negara di Dunia.
Terakhir Nginap didepan Multazam, kenalan dengan orang kashmir (ibunya namanya Aminah, dia lupa siapa namanya dan suaminya seorang ustadz dikashmir namanya Ayyub/yakub gitu) Alhamdulilah dia bisa bahasa inggris. Ayu ngasih tolak angin untuknya, dan responnya bilang hot cold tapi enak. ngobrol macem-macem dan membaca doa bareng di depang multazam dari buku panduan umroh/haji dari kashmir.
Selalu ingin menyapa dan kenalan dengan saudara seiman dari berbagai negara di dunia ini.

Thursday, February 09, 2017

PERJALANAN UMROH-1

Bismillahirahmanirrahim,
Izinkan saya bercerita karena rindu berada disana.
Dari perjalanan umroh ini, cita-cita terbesar saya didunia adalah bisa berada di rumah Allah (Baitullah) dan kota Nabi. Alhamdulilah bisa juga berada disana selama seminggu lebih.
Madinah dan Mekah adalah kota yang dijamin aman oleh Allah, ketika akhir zaman, ketika ada dajjal, kota yang diberkahi oleh Allah. Muslim siapa yang tidak ingin berada disana dirumah Allah dan kota Nabi.
Begitu indah dan damai berada disana, tidak memikirkan urusan dunia,yang dipikirkan hanyalah bagaimana bisa sholat dimasjid, berbuat baik, dan melakukan semua yang baik. Bisa setiap saat minum air yang diberkahi yaitu air zam-zam. Melihat banyak orang disana dari berbagai negara, seperti buih dilautan, tapi tetap berpegang semuanya yang berada disana adalah orang-orang pilihanNya, mungkin caranya saja yang berbeda menyikapi dan menjalankan ibadah disana. Karena begitu cintaNya ingin melihat kekasihNya, antrian panjang dan butuh usaha untuk berada disana, saling membantu, menolong, dan berdoa disana. Semua karena cinta kepada Rasulullah Saw, keluarga, dan para sahabatnya. Cuaca disana yang membuat harus bersabar, sebelumnya ada yang memberitahukan tentang iklim disana ini linknya :http://www.mutiarahadits.com/…/anjuran-untuk-tinggal-di-mad…
Berada di haram Madinah Masjid Nabawi merasakan dekat dengan Rasulullah, hawanya bagaimana beliau dakwah dan hidup disitu.
Ketika diberitahu ustadz mengenai tidak boleh berisik ketika dimasjid, saya pun sangat menjaga semuanya dengan mengikuti nasehat tsb. Tapi banyak orang lain yang didekat makam Rasulullah masih teriak-teriak, dorong-dorongan, dll. Disitu jadi teringat betapa belajar adab itu sangat penting baru mempelajari ilmu. Imam-imam besar sampai berpuluh-puluh tahun mempelajari adab. Adab sangat berpengaruh terhadap sikap dan apa yang kita lakukan.
Untuk itu kita harus mengetahui adab setiap kondisi. Di Raudoh taman surga dimana Rasulullah dimakamkan. Menyebut nama Kekasih Allah setiap saat, serasa dekat melalui shalawat. Semoga bisa bersama Rasulullah ditelagaNya kelak, semoga bisa mendapat syafaat darinya.
Mengunjungi masjid Quba, masjid yang dibangun pertama kali oleh Rasulullah, ke kebun kurma, ke jabal uhud, dimana disitu tanah yang didalamnya banyak darah para syuhada. Jabal uhud kelak ada juga di Surga. Semoga bisa berkumpul dengan orang sholeh dan sholehah melihat jabal uhud disurga kelak. Meninggalkan Madinah sangat sedih, meninggalkan Kekasih Allah Rasulullah. Melihat keadaan perjalanan dari Madinah ke mekah, terlihat bukit-bukit, jalan berbatu dan gurun pasir, jadi membayangkan perjalanan Rasulullah ketika hijrah dari Mekah ke Madinah, terharu demi Islam Rasulullah berdakwah dengan berbagai keadaan yang luar biasa. Saya sudah tinggal ditempat yang enak, naik angkutan dengan mudah, penerangan yang megah, saya masih saja mengeluh dengan nikmat yang begitu banyak dan indah. Tapi melihat keadaan bukit-bukit yang dilalui Rasulullah saya menjadi malu tak seharusnya saya mengeluh dengan setiap keadaan. Ustadz Asep sobari, Lc menjelaskan itulah yang dinamakan proses tawakal Rasulullah, dengan keadaan begitu Rasulullah terus berdakwah demi agama Allah dan menyebarkannya. Tawakal ya dari hal tersebut belajar apa itu tawakal yang sebenarnya, terus berjuang tanpa mengenal menyerah demi agama Allah. Semua dari Allah dan kembali kepada Allah. Ambil Miqot niat umroh di bir Ali, selama dijalan merinding membaca kalimat talbiyah "Laabaikallahummaa Laabaik..." deg-degan mau datang kerumah Allah, mengunjungi rumah Allah dengan penuh dan banyak dosa. Katanya karena banyak dosa makanya dipanggil kerumah Allah. Ya Allah saya malu, semoga Allah mengampuni segala dosa yang diperbuat. Setelah sampai Rumah Allah, terharu bisa berada disana, yang sebelumnya hanya melihat digambar, sekarang benar-benar didepan mata, memegangnya, air mata terus mengalir. Karena dirumahNya semua rasa dan keinginan disampaikan melalui doa-doa sambil tawaf, setalah tawaf sai dari shafa ke marwah, teringat kisah ummi hajar bersama ismail ketika ditinggal berdua ditengah gurun pasir yang gersang, disaat itu ummi hajar berlari 7 kali untuk bertawakal, akhirnya kaki ismail dapat mengeluarkan air zam-zam dari gurun pasir, air tersebut sampai sekarang masih mengalir terus dan berkah. Pengen foto tapi takut mengurangi rasa khusyu jadi tidak ada begitu banyak foto, berdoa untuk ayah ibu, adik-adik, saudara, teman-teman, indonesia dan dunia. Berdoalah selagi dirumah Allah, minta segalanya, curahkan semua perasaan. Pengen sekali tinggal dan mati disana, di Rumah Allah (Baitullah) Mekah atau di kota Nabi Madinah. Untuk saat ini Allah belum izinkan, rindu dan cinta yang masih tertinggal disana, semoga Allah panggil kembali kerumahNya untuk tinggal dan mati disana.
Jazaakumullahu khairan katsiran atas semuanya yang telah mewujudkan cita-cita ini. Terima kasih yang tidak bisa disebutkan namanya satu-satu. Mohon maaf lahir batin atas segalanya, semoga bisa berkumpul disurgaNya, allahummaa aamiin
Jika ada kesalahan cerita mohon maaf.
Nurina Utami
29 Januari-06 Februari 2017

Friday, November 25, 2016

Ikrimah bin Abu Jahal

kaligrafi arab yang bermakna Ikrimah
Ikrimah bin Abu Jahal adalah Sahabat Nabi Muhammad yang juga anak dari Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam. Ia adalah salah satu dari pemimpin Quraisy ketika terjadi Pembebasan Mekkah. Beliau memeluk agama Islam setelah pembebasan Mekkah pada tahun 630 M.

Ikrimah adalah putra dari Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam. Abu Jahal adalah Fir’aun di zamannya. Ia hidup di Makkah sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya. Ia selalu berusaha membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat sejumlah ayat (tanda kekuasaan) Allah dan sejumlah mukjizat, tetapi mata hatinya telah lebih dulu buta sebelum mata kepalanya. Karenanya,ia pun menjadi seperti setan yang sangat pembangkang.

Ikrimah dikenal sebagai pemuda Quraisy yang gagah berani dan sebagai penunggang kuda yang sangat mahir dalam peperangan. Ia memusuhi Rasulullah hanya karena didorong oleh sikap kepemimpinan bapaknya yang sangat keras memusuhi Rasulullah. Karena itu, ia turut memusuhi beliau lebih keras dan menganiaya para shahabat lebih keras, kejam, dan bengis, untuk menyenangkan hati ayahnya.

Sejak kematian ayahnya dalam Perang Badar, pandangan sikap Ikrimah terhadap kaum Muslimin berubah. Kalau dulu ia memusuhi kaum Muslimin lantaran untuk menyenangkan hati ayahnya, maka sekarang ia memusuhi Rasulullah dan para shahabatnya karena dendam atas kematian ayahnya. Dan dendam itu ia lampiaskan dalam Perang Uhud.

Ketika Perang Khandaq meletus, kaum Musyrikin Quraisy mengepung kota Madinah selama berhari-hari. Ikrimah bin Abu Jahl tak sabar dengan pengepungan yang membosankan itu. Lalu ia nekad menyerbu benteng kaum Muslimin. Usahanya sia-sia, bahkan merugikannya hingga ia lari terbirit-birit di bawah hujan panah kaum Muslimin.

Ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), kaum Quraisy memutuskan tidak akan menghalangi Rasulullah dan para shahabatnya masuk kota Mekkah. Tapi Ikrimah dan beberapa orang pengikutnya tak mengindahkan keputusan itu. Mereka menyerang pasukan besar kaum Muslimin. Namun, serangan itu dapat dipatahkan oleh Panglima Khalid bin Walid. Ikrimah melarikan diri ke Yaman lantaran takut dihukum mati oleh Rasulullah.


Masuk islamnya Ikrimah bin Abu Jahal

Pada saat itu istrinya yang bernama Ummu Hakim masuk Islam dan meminta perlindungan dan keamanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Ikrimah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Dia aman”. Maka Ummu Hakim pun berangkat menyusul Ikrimah. Setelah bertemu dengan Ikrimah di tempat pengasingannya, Ummu Hakim membujuk suaminya agar mau kembali ke Mekkah. Ummu Hakim juga mengabarkan bahwa Rasulullah telah mengampuni dan memaafkannya.

Ketika Ikrimah dan istrinya hampir tiba di kota Mekkah, Rasulullah berkata kepada para shahabatnya, “Ikrimah bin Abu Jahl akan datang ke tengah-tengah anda sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah anda memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup, padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal.”

Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah , beliau menyambutnya dengan sangat gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah duduk pula di hadapan beliau dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda ke-Islamannya. Setelah itu, Ikrimah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya yang telah lalu. Rasulullah pun memenuhi permintaan Ikrimah itu.

Maka wajah Ikrimah pun berseri-seri. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah! Tak satu sen pun dana yang telah saya keluarkan untuk memberantas agama Allah di masa lalu, melainkan mulai saat ini akan saya tebus dengan mengorbankan hartaku berlipat ganda untuk menegakkan agama Allah. Dan tak seorang pun kaum Muslimin yang telah gugur di tanganku, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin berlipat ganda, demi untuk menegakkan agama Allah.”


Syahidnya Ikrimah bin Abu Jahal

Pada saat perang Yarmuk meletus dengan hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa buas Ikrimah pun bangkit dan berkata: “Minggirlah, wahai Khalid bin Walid, biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi ? Demi Allah tidak, selamanya tidak akan terjadi !”

Ikrimah berteriak: “Siapa yang akan membaiatku untuk mati ? “

Pamannya Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka 400 pasukan muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi pasukan-Nya.

Perang pun selesai. Ikrimah tergeletak terkena 70 tikaman di dadanya, sedang disampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits memanggil-manggil meminta air namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan maka ia berkata: “Berikanlah air kepada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi Rabi’ah juga sangat kehausan, lalu ia berkata: “Berikanlah air kepada Ayyasy.” Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada untuk meminum air surga dan sungai-sungainya.

Sumber:
kisahmuslim.com 
ahlulhadist.wordpress.com

  Mendengar nama Abu Al-Hakam (Abu Jahal), membuat hati kaum Muslimin menjadi sangat geram karena sosoknya yang sangat memusuhi Islam. Dia merupakan lelaki yang terhormat di kaumnya. Dia memiliki harta yang amat banyak, sehingga memiliki kedudukan yang tinggi di mata kaum Quraisy.

     Namun, dia telah mengubur dalam-dalam dirinya ke dalam lumpur kemusyrikan, padahal jika ia mau menerima hidayah dan cahay islam, niscaya ia akan menjadi orang yang berpengaruh dalam Islam. Sesuai dengan doa Rasulullah, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Amr bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Al-Khattab.

     Namun, apa daya Allah lebih mengetahui perkara yang ghaib. Dia-lah yang menentukan takdir seseorang sehingga Dia menjadikan Umar bin Al-Khattab, yang merupakan keponakan Abu Jahal untuk memeluk Islam.

     Abu Jahal merupakan Fir’aun bagi umat ini. Ia hidup sezaman dengan Rasulullah dan mendedikasikan dirinya untuk memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Ia berusaha keras untuk menghentikan dakwah Rasulullah bahkan untuk membunuhnya. Namun, Rasulullah memang bukan manusia yang pantas untuk dibunuh. Ia melihat sejumlah tanda kekuasaan-Nya dan mukjizat Rasulullah, namun hatinya yang sudah terlanjur keras bagaikan semen yang sulit untuk dilunakkan kembali.

     Saat menjelang Perang Badar, Abu Jahal selalu mendesak kaumnya agar tetap melaksanakan perang walaupun kafilah dagang Abu Sufyan selamat. Ia telah tertipu oleh bujuk rayu setan. Ia yakin bahwa kaum Quraisy akan menang dalam perang yang menentukan nasib kaum Muslimin.

     Namun, dia sendirilah yang merasakan pahitnya kekalahan, bahkan lebih dari itu. Ia merasakan kematiannya yang sunguh tragis.

     Mengenai ini, Al-Bukhari dan Muslim menuturkan bahwa Abdurrahman bin Auf meriwayatkan, “Sesungguhnya aku berada di tengah-tengah pasukan saat Perang Badar. Ketika menengok ke kiri dan ke kanan, aku melihat dua orang bocah belia. Aku nyaris tak percaya dengan keberadaan keduanya. Seorang dari mereka berbisik kepadaku tanpa diketahui temannya, ‘Paman, tunjukkan kepadaku orang yang bernama Abu Jahal!

     Aku menjawab, ‘Wahai keponakanku, apa yang akan kauperbuat dengannya?

     Ia menjawab, ‘Aku mendengar kabar bahwa ia telah mencaci Rasulullah. Maka, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bila aku bertemu dengannya, niscaya aku tidak akan berpisah dengannya sebelum terbukti siapa yang lebih dulu mati di antara kami!

     Aku terkejut mendengar perkataannya.

     Abdurrahman bin Auf melanjutkan, “Kemudian, bocah satunya bertanya dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Namun, belum sempat aku menjawab keduanya. Tiba-tiba kulihat kelebat Abu Jahal di tengah-tengah pasukan yang sedang berperang. Maka aku berkata, ‘Apakah kalian berdua tidak melihatnya? Itulah orang yang kalian tanyakan kepadaku.’ Seraya menunjuk ke arah Abu jahal.

     Keduanya bergegas menghampiri Abu Jahal dengan menghunus pedang masing-masing. Setelah dekat, mereka langsung menyerang Abu Jahal hingga tewas, lalu pergi menghadap Rasulullah untuk melaporkan hal itu. Maka beliau bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang membunuhnya?

     ‘Aku yang membunuhnya.’ Jawab keduanya bersamaan.

     Rasulullah bertanya kembali, ‘Sudahkah kalian menghapus (darah) yang ada di pedang kalian?

     Keduanya serentak menjawab, ‘Belum.

     Rasulullah memeriksa kedua pedang mereka, kemudian bersabda, ‘Kalian berdua telah membunuhnya secara bersamaan’.

     Sejak kejadian itu, muncullah Ikrimah  bin Abu Jahal yang mulai menaruh dendam terhadap kaum Muslimin. Dulu, sebelum ayahnya terbunuh, ia memusuhi Islam karena ingin membahagiakan ayahnya. Namun, sejak saat itu pendiriannya berubah drastis saat ayahnya terbunuh dalam Perang Badar.

     Saat Rasulullah memulai dakwahnya, Ikrimah berusia 30 tahun dan ia merupakan seorang bangsawan yang dihormati karena berasal dari keturunan yang dihormati pula oleh rakyatnya.

     Ia dikenal sebagai orang yang gagah dan seorang penunggang kuda yang mahir. Ini merupakan kebanggaan sendiri bagi pemuda Jazirah Arab pada saat itu.

     Semenjak Perang Badar, ia benar-benar ingin membunuh Rasulullah karena rasa dendamnya yang sudah membara di dalam hatinya yang keras.

     Rasa dendam itu ia lampiaskan di Perang Uhud. Ia tampil sebagai pasukan berkuda kaum Quraisy yang ada dalam pasukan inti bersama Khalid bin Al-Walid. Tujuan mereka adalah bukan untuk memenangkan pertempuran, melainkan untuk membunuh Rasulullah dan Hamzah.

     Mereka—termasuk Ikrimah—sangat bersemangat sekali untuk memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Ikrimah melihat bayangan peristiwa kematian ayahnya di depan matanya hingga membuat pasukan kaum Muslimin mengalami kekalahan yang disebabkan oleh pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan pemanah.

     Dalam Perang Khandaq, Ikrimah adalah salah satu dari ribuan pasukan kaum musyrikin yang mengepung Madinah. Mereka sangat terkejut sekali melihat pertahanan kaum Muslimin—sebuah parit—yang belum pernah ada di wilayah jazirah Arab. Benar saja, strategi itu atas usul dari seorang berkebangsaan Persia, Salman Al-Farisi.

     Setelah pasukan Quraisy terkejut, tiba-tiba salah seorang pendekar Quraisy, Amru bin Abdul Wudd keluar dari tengan-tengah barisan Quraisy, seraya berseru kepada kaum Muslimin, “Siapakah yang sangguo melawanku?!” Maka, Ali pun berkata kepada Rasulullah, “Saya akan menghadapinya, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Duduklah engkau, ia adalah Amru.” Kemudian Amru berteriak sekali lagi, “Tidak adakah seorang lelaki yang sanggup menghadapiku? Bukankah kalian megatakan bahwa jika salah seorang di antara kalian terbunuh, maka orang itu akan memasuki surga? Maka, kenapa tidak ada seorang lelaki di antara kalian yang tampil?” Ali berkata, “Saya, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Duduklah.” Kemudian Amru mengulangi kembali tantangannya dengan melantunkan bait syair yang bernuansa kesombongan. Maka Ali berkata, “Meskipun Amru sekalipun!” Akhirnya Rasulullah pun mengizinkannya.

     Ali bin Abu Thalib berhasil memenangkan duel dengannya . ia memenggal kepala Amru bin Wudd dan melemparkannya pada pasukan kafir Quraisy. Melihat kejadian ini, Ikrimah lari terbirit-birit bagaikan tikus ketakutan.

     Singkat cerita, kaum kafir Quraisy maninggalkan Madinah karena Allah telah mengirimkan badai yang telah memporak-porandakan kemah mereka.

     Pada akhir tahun 6 H, Rasulullah bersama para shahabatnya mengadakan perjalanan ke Mekkah dengan tujuan berziarah ke Baitullah dan melakukan umrah, bukan hendak berperang, dan mereka juga tidak mengadakan persiapan untuk peperangan. Keberangkatan mereka ini diketahui oleh kaum Quraisy, sehingga mereka keluar untuk menghalangi jalan kaum Muslimin dan membatalkan niat mereka. Suasana pun menjadi tegang dan hati kaum Muslimin berdebar-debar. Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, “Jika pada waktu ini Quraisy mengajak kita untuk mengambil langkah ke arah pertalian silaturahmi, aku pasti mengabulkan.

     Kaum Quraisy pun mengirim utusan demi utusan kepada Rasulullah. Beliau selalu memberitahukan kepada mereka bahwa beliau datang tidak untuk berperang, tetapi hanyalah untuk mengunjungi Baitul Haram dan menjunjung tinggi kesuciannya. Setiap utusan Quraisy kembali tanpa hasil, mereka mengirim lagi utusan yang lebih bijak dan lebih disegani, hingga sampai pada giliran Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi.

     Ia merupakan tokoh Quraisy yang paling kuat dan brilian. Menurut anggapan Quraisy, ia akan mampu meyakinkan Rasulullah untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, tidak lama setelah itu, Urwah kembali lagi dan berkata kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy, aku ini pernah berkunjung kepada Kaisar, Kisra, dan Najasyi di istana mereka masing-masing. Namun, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang dihormati oleh rakyatnya seperti halnya Muhammad dihormati oleh para shahabatnya. Aku melihat di sekelilingnya suatu kaum yang sekali-kali tidak akan rela membiarkannya mendapat cedera selamanya. Karena itu, pertimbangkanlah apa yang hendak kalian lakukan.

     Saat itulah orang-orang Quraisy yakin bahwa usaha mereka tidak akan berhasil. Mereka akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan perundingan dan perdamaian. Untuk melaksanakan tugas ini, mereka memilih pemimpin mereka yang tepat, yang tiada lain adalah Suhail bin Amr. Kaum Muslimin melihat Suhail saat ia datang dan mereka langsung mengenal siapa dia. Kedatangannya itu membuat kaum Muslimin memahami bahwa orang-orang Quraisy akhirnya berusaha untuk berdamai dan mencapai kesepakatan karena yang mereka utus ialah Suhail bin Amr.

     Suhail duduk berhadapan dengan Rasulullah dan terjadilah perundingan yang berlangsung lama di antara mereka dan berakhir dengan tercapainya nota kesepakatan damai. Dalam perundingan ini Suhail berusaha mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya bagi Quraisy. Hal ini dipermudah oleh toleransi luhur dan mulia dari Rasulullah yang berlangsung saat negosiasi dalam perdamaian tersebut.

     Hari terus bergulir hingga tibalah tahun 8 H. Rasulullah bersama kaum Muslimin berangkat untuk membebaskan Mekkah, yaitu setelah Quraisy melanggar perjanjian dan ikrar mereka dengan Rasulullah, serta orang-orang Muhajirin pun kembali ke kampung halaman mereka setelah mereka dulu diusir secara paksa. Mereka kembali bersama orang-orang Anshar, yang dahulu telah membawa mereka berlindung di Madinah dan mengutamakan mereka daripada diri sendiri. Islam kembali secara keseluruhannya dan mengibarkan panji-panji kemenangannya di angkasa luas. Mekkah pun membukakan semua pintunya.

     Orang-orang musyrik hanya bisa berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Menurut anda, apakah nasib yang akan dialami oleh mereka sekarang ini? Apa gerangan yang akan diterima oleh orang-orang yang telah menyalahgunakan kekuatan mereka selama ini terhadap kaum Muslimin dengan melakukan pembunuhan, pembakaran, penyiksaan, dan membuat kelaparan?

     Rasulullah yang sangat pengasih itu tidak akan membiarkan mereka terlalu lama di bawah tekanan perasaan yang sangat pahit dan getir ini. Dengan dada yang lapang dan sikap yang lunak dan lembut, beliau menghadapkan wajah kepada mereka sambil bersabda dengan getaran dan irama suara bagai siraman air kasih sayang berkumandang di telinga mereka, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apakah yang akan aku lakukan terhadap kalian?

     Mendengar itu, sosok yang sebelumnya menjadi musuh Islam, Suhail bin Amr maju memberikan jawaban, “Kami yakin engkau akan berbuat baik karena engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia.

     Sebuah senyuman bagaikan cahaya, tersungging di kedua bibir Rasulullah kekasih Allah itu, lalu bersabda, “Pergilah kalian karena kalian semua bebas.

     Kata-kata Rasulullah yang baru saja memperoleh kemenangan ini semestinya tidak akan diterima begitu saja oleh orang yang masih mempunyai perasaan, kecuali dengan hati yang telah menjadi peleburan dan perpaduan antara rasa malu, ketundukan, dan penyesalan.

     Namun, saat kejadian ini, Ikrimah bin Abu Jahal berusaha melarikan diri karena takut akan pembalasan kaum Muslimin yang akan ditimpakan kepadanya.

     Mengenai ini, Abu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka Ikrimah berkata, “Aku tidak akan tinggal di tempat ini!" Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata, "Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?" Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya. 

     Ketika Rasulullah bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka kepada Rasulullah isteri Ikrimah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Justru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya." Rasulullah pun menjawab, "Dia akan berada dalam keadaan aman!" Mendengar jawaban itu, maka isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya.

     Di saat yang sama, di pesisir Tihamah, ia akan menaiki sebuah kapal yang hendak membawanya ke daerah Yaman. Seketika itu juga, sang nahkoda kapal mengatakan agar ia menyucikan dirinya, ketika ditanyakan tentang apa yang harus dilakukannya, sang nahkoda berkata, “Ucapkanlah kalimat, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.

     Maka, dengan nada membentak, Ikrimah berkata, “Tidak ada yang menyebabkan aku melarikan diri dari negeriku, kecuali dari kalimat yang baru saja engkau ucapkan!

     Sang nahkoda tetap mendesaknya agar mengucapkan kalimat tersebut, bahkan ia mengancamnya tidak akan membawanya berlayar ke tempat tujuannya. Dalam suasana yang menegangkan ini, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya yang tak lain adalah Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam, isterinya sendiri yang telah memeluk Islam.

     Ikrimah pun menghentikan pertengkarannya dengan sang nahkoda dan segera berpaling kepada istrinya. Maka, Ummu Hakim berkata kepadanya dari kejauhan, “Wahai putra pamanku, aku telah datang kepadamu dari sisi orang yang paling banyak menyambung silaturahmi, sebaik-baik manusia dan semulia-mulia manusia. Maka, janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri.

     Setelah ia mendekat, ia berkata lagi, “Sesungguhnya aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu dari Rasulullah.

     Maka, dengan rasa setengah percaya Ikrimah bertanya, “Engkau telah melakukannya?

     “ya, aku telah berbicara dengan Rasulullah dan meminta jaminan keselamatan untukmu. Dan beliau memberikan jaminan keselamatan itu untukmu!” jawab istrinya.

     Nampaknya tidak ada pilihan lain bagi Ikrimah, karena sang nahkoda kapal menolaknya untuk mengantarkannya ke Yaman sebelum ia mengucapkan syahadat, yang artinya ia harus memeluk Islam. Padahal hal itulah yang membuatnya melarikan diri menuju ke Yaman. Akhirnya ia pun memenuhi permintaan istrinya dan mereka berdua pun kembali ke Mekkah.

     Sedangkan di Mekkah, Rasulullah yang telah mengetahui bahwa Ummu Hakim berhasil membawa kembali suaminya, bersabda kepada para sahabat, “Ikrimah bin Abu Jahal akan datang kepada kalian sebagai orang yang beriman dan Muhajirin, maka janganlah kalian mencaci bapaknya, karena cacian terhadap orang yang sudah meninggal akan menyakiti orang yang masih hidup, padahal cacian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal.

     Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah, beliau berdiri dan menyambutnya dengan gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah pun duduk di hadapan beliau dan mengucapkan kalimat syahadat, tanda keislamannya. Setelah itu, ia memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya yang lampau dengan berkata, “Ya Rasulullah, hendaknya engkau memohankan ampun bagiku atas setiap permusuhanku terhadapmu, atas setiap perjalanan yang untaku kupacu kencang untuk memusuhimu, dan di mana pun aku menemuimu untuk menyakitimu, juga atas setiap ucapan yang keluar dari mulutku, di hadapanmu atau di belakangmu.”  Rasulullah pun memenuhi permintaannya dengan mendoakannya dan para sahabat yang hadir pun mengamininya.

     Maka, seketika itu juga wajahnya pun berseri-seri bagaikan matahari yang menyinari di malam yang kelam. Ia pun berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah. Aku akan mengorbankan hartaku di jalan Allah dua kali lebih banyak daripada harta yang kupakai untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini. Dan aku akan berperang di jalan Allah dua kali lebih banyak daripada peperangan yang telah aku lakukan untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini. 

     Sesuai dengan janjinya, ia selalu menyertai Rasulullah dalam setiap peperangan yang terjadi setelah keislamannya itu. Dalam Perang Hunain, di mana pada awalnya pasukan Muslimin sempat terdesak dan kocar-kacir, Suhail bin Amr menyertai perang itu walaupun belum menerima hidayah dari Islam, berkomentar dengan sinis, “Muhammad dan para sahabatnya tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah hilang dari mereka, dan tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi.

     Mendengar perkataannya tersebut, Ikrimah membantahnya dengan berkata, “Ini bukanlah ucapan yang tepat dan urusan ini sedikit pun bukan hak Muhammad. Jika hari ini ia dikalahkan, maka besok ia akan memiliki kesudahannya sendiri.

     Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Okromah ini, Suhail berkata dengan heran, “Demi Allah, sesungguhnya zaman di mana engkau memusuhi Muhammad baru saja engkau tinggalkan, wahai Ikrimah.

     “Wahai Abu Yazid (Suhail), Demi Allah dahulu kita telah memacukan kuda kita untuk tujuan yang sia-sia, sedangkan akal kita adalah akal kita sendiri. Dahulu kita menyembah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan madharat apapun kepada kita.” Sahut Ikrimah.

     Akhirnya Suhail bin Amr tidak mampu lagi mendebat pernyataan Ikrimah tersebut. 

     Ikrimah pernah ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pemungut zakat dari Bani Hawazin ketika beliau sedang menunaikan ibadah haji. Bahkan ketika Rasulullah wafat, ia sedang mengemban tugas Rasulullah di daerah Tabalah, sebuah kota di Yaman yang cukup terkenal.

     Ikrimah sendiri akhirnya mati syahid dalam Perang Yarmuk, di mana pasukan Muslimin melawan pasukan Romawi pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab.

     Bagaimana kisahnya?

     Ketika Perang Yarmuk sedang berkecamuk, Ikrimah maju dengan hati yang bersemangat. Ia memiliki semangat jihad yang tinggi, yang akan ia gunakan sebagai tebusan atas masa lalunya. Melihat tindakannya itu, Khalid bin Al-Walid mengejarnya sambil berteriak, “Janganlah engkau bertindak bodoh, wahai Ikrimah. Kembalilah, karena kematianmu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin.

     Namun, Ikrimah tidak mempedulikan peringatan tersebut. Seketika itu juga ia menghampiri Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sembari berkata, “Aku sudah bertekad mati syahid, apakah engkau mempunyai pesan penting yang akan kusampaikan kepada Rasulullah, bila aku menemuinya nanti?” Abu Ubaidah menjawab, “Ada, katakan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kami, memang benar!

     Ia pun langsung melesat maju menyerang bagai anak panah lepas dari busurnya. Ia menyerbu ke tengah-tengah pertempuran dahsyat, merindukan tempat peraduan dan pembaringannya. Ia menyerang dengan sebilah pedang, dan dilawan oleh seribu pedang, hingga menemui kesyahidan.

     Itulah dia Ikrimah bin Abu Jahal. Dia memang anak Abu Jahal, namun sifatnya sungguh berbanding terbalik dengan ayahnya. Ketika tekanan orang Romawi semakin berat, ia berseru kepada kaum Muslimin dengan suara lantang, “Sungguh, aku telah lama memerangi Rasulullah pada masa yang lalu sebelum Allah memberikan petunjuk kepadaku untuk masuk Islam. Apakah pantas aku lari dari musuh-musuh Allah hari ini?

     Kemudian ia berteriak, “Siapakah yang bersedia dan berjanji untuk mati?” sejumlah orang berjanji kepadanya untuk berjuang sampai mati, kemudian mereka menyerbu ke jantung pertempuran bersamaan. Bukan hanya mencari kemenangan, melainkan bila kemenangan itu harus ditebus dengan jiwa dan raga, mereka sudah siap untuk mati syahid. Allah telah menerima pengorbanan dan baiat mereka. Mereka semuanya gugur syahid.

     Di akhir pertempuran, di bumi Yarmuk berjejer tiga mujahid Muslim yang terkapar dalam keadaan kritis. Mereka menderita luka yang sangat parah; Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan Ikrimah bin Abu Jahal.

     Ada pula orang-orang yang luka berat, dia adalah Al-Harits. Seseorang membawakan air kepadanya. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia melihat Ikrimah dalam keadaan seperti yang ia alami. "Berikan dulu kepada Ikrimah," kata Al-Harits. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok kepadanya. "Berikan dulu kepada Ayyasy!" ujarnya. Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, dia telah meninggal. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun keduanya pun telah meninggal pula.


     Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, hingga akhirnya mereka semua mati syahid. Itulah yang terjadi. Mereka rela menderita kehausan sewaktu ruh-ruh mereka melayang. Inilah contoh teladan yang paling indah tentang pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga. 


Ikrimah bin `Amr al-Makhzoumi (Arabعكرمة بن عمرو المخزومي) adalah Sahabat Nabi Muhammad yang juga anak dari Abu Jahal. Ia adalah salah satu dari pemimpin Quraisyketika terjadi Pembebasan Mekkah. Setelah pembebasan Mekkah pada tahun 630 M, dia memeluk agama Islam.
Dalam kepemimpinan Abu Bakar, Ikrimah ikut dalam pertempuran menaklukan Musailamah al-Kazzab. Ia juga ikut dalam pertempuran Yarmuk melawan tentara Romawi dan mati syahid dalam pertempuran itu.

dakwatuna.com – Siapa yang tidak kenal Ikrimah? Putra Abu Jahal ini demikian keras memusuhi Rasulullah saw. Bahkan, aktif mengangkat senjata bersama pasukan kaum musyrikin Makkah menyerang kaum Muslimin Madinah. Namun keadaan berbalik saat Rasulullah saw. bersama pasukan Muslimin mengepung Makkah. Ikrimah sadar betul, jika Makkah jatuh dalam penguasaan Rasulullah saw., keselamatannya terancam. Pasti ia akan dieksekusi atas semua kejahatannya terhadap kaum Muslimin.
Maka, ketika Rasulullah saw. berhasil menaklukkan kota Makkah, Ikrimah berkata, “Aku tidak akan tinggal di tempat ini!” Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata, “Hendak kemana kamu, wahai pemimpin pemuda Quraisy? Apakah kamu akan pergi ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui?”
Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya.
Ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka isteri Ikrimah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman kerana ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”
Rasulullah saw. menjawab, “Dia akan berada dalam keadaan aman!” Mendengar jawaban itu, isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya, “Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”
Ikrimah bertanya, “Apakah yang harus aku ikhlaskan?”
“Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad adalah utusan Allah!” kata pengemudi kapal itu.
Ikrimah menjawab, “Tidak, justru aku melarikan diri adalah karena ucapan itu.”
Selepas itu datanglah isterinya. “Wahai Ikrimah, putera bapak saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah saw.”
Ikrimah bertanya kepada isterinya, “Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?”
Isterinya menjawab, “Benar, aku telah berbicara dengan beliau dan beliau pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu.”
Begitu mendengar berita itu, di malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan hubungan suami-isteri dengan isterinya. Tetapi isterinya menolak. Istrinya berkatam “Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”
Ikrimah berkata, “Penolakan kamu itu adalah masalah besar bagi diriku.”
Tak lama kemudian mereka tiba di Makkah. Mendengar berita bahwa Ikrimah sudah pulang, Rasulullah saw. menemuinya. Saking gembiranya Rasulullah saw. sampai lupa memakai serbannya.
Setelah bertemu dengan Ikrimah, Rasulullah saw. duduk. Ketika itu Ikrimah ditemani isterinya. Ikrimah berikrar, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mendengar ikrar Ikrimah itu, Rasulullah saw. sangat gembira. “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan,” kata Ikrimah lagi.
Rasulullah saw. menjawab, “Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah kembali bertanya, “Selepas itu apa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya.”
Ikrimah berkata, “Aku memohon kepadamu, ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu, dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”
Maka Rasulullah saw. pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu, dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku maupun tidak.”
Mendengar doa Rasulullah saw. itu, alangkah senangnya hati Ikrimah. Ketika itu juga ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersumpah, demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”
Begitulah tekad Ikrimah setelah memeluk Islam. Dan itu ia buktikan dengan selalu ikut dalam setiap peperangan. Salah satunya Perang Yarmuk. Di perang ini Ikrimah ikut sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Khalid bin Walid berkata, “Jangan kamu lakukan hal itu. Karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”
Ikrimah menjawab, “Wahai Khalid, engkau telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah saw., maka biarlah hal ini aku lakukan!”
Ikrimah tetap pada pendiriannya. Ia bertempur dengan gigih hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Di tubuhnya terdapat sekitar tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak, dan anak panah.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, masing-masing mereka berkata, ‘Berikan air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.”
Dalam riwayat lain ditambahkan, sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut. Akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula. Ikrimah berkata, “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata, “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja. Barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka. Sehingga tidak seorangpun di antara mereka yang meminum air tersebut. Ketiganya mati syahid.
Begitulah Ikramah mendapatkan kesyahidannya. Sungguh berbeda sekali dengan ayahnya, Abu Jahal, yang mati dalam kekafiran.


Diriwayatkan oleh al waqidi dan Ibnu Asakir, dari Abdullah bin az Zubair katanya: Pada hari penaklukan Mekkah,Ummu Hakim binti al Harits bin Hisyam, istri Ikrimah bin Abu Jahal telah memeluk islam. Kemudian Ummu Hakim berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, 'Ikrikmah telah melarikan diri darimu ke Yaman. Dia takut engkau akan membunuhnya, maka berilah jaminan keamanan kepadanya."
Maka Rasulullah bersabda, "Ia aman."
Maka Ummu Hakim pun berangkat mencari Ikrimah disertai hamba lelakinya yang berbangsa Romawi. Hambanya itu mencoba mencabuli kehormatan Ummuh Hakim dan keadaannya sendiri memang membuat  hamba itu menginginkannya. Sesampainya mereka di salah satu tempat Bani  Akk, Ummu Hakim meminta tolong mereka agar mencegah  perilaku hamba sayahanya itu. Lalu mereka menangkap hamba itu dan mengikatnya.
Sementara itu Ikrimah  telah sampai  ke kawasan pesisir Tihamah, lalu ia menaiki kapal. Namun si Nahkoda  berkata, "Sucikanlah dirimu."
Ikrimah bertanya, "Apa yang harus aku ucapkan  (untuk menyucikan diriku)?"
 Jawab pemilik kapal itu, "Ucapkanlah  laa ilaaha illallah."
Kata Ikrimah, "Tidak ada yang menyebabkan  aku melarikan diri melainkan dari kalimat ini."

Dalam keadaan demikian, datanglah Ummu Hakim  melambai-lambaikan ujung bajunya kepada Ikrimah, seraya berkata, "Wahai putra paman! Aku telah datang kepadamu dari sisi orang yang paling banyak menyambung silaturrahmi, sebaik-baik manusia, dan semulia-mulia manusia (Muhammad). Janganlah kau binasakan dirimu sendiri."

Maka Ikrimah berhenti sehingga Ummu Hakim dapat mendekatinya dan berkata, "Sesungguhnya aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu dari Rasulullah."
Ikrimah bertanya, "Engkau  telah melakukannya?"
Jawab Ummu Hakim, "Ya, aku telah berbicara kepada Rasulullah dan memohon agar engkau diberi  jaminan keselamatan, lalu beliau memberi jaminan itu untukmu."

Maka Ikrimah pulang bersama Ummu Hakim, isterinya. Dalam perjalanan Ummu Hakim berkata kepadanya, "Aku telah diganggu oleh hambe lelaki Rumawi milikmu."

ummu Hakim lalu menceritakan  pengalaman itu. maka Ikrimah  kemudian membunuh hamba  sahaya itu, sedangkan ketika itu Ikrimah belum memluk Islam.

Abu Ishaw As-Ayabi'i meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, maka Ikrimah berkata: Aku tidak akan tinggal di tempat ini!" Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata: "Hendak kemana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy?" Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?" Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya. 

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka kepada Rasulullah isteri Ikrimah berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Justru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya." Rasulullah SAW menjawab: "Dia akan berada dalam keadaan aman!" Mendengar jawaban itu, maka isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. 

Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, maka orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya: "Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!" 
Ikrimah bertanya: "Apakah yang harus aku ikhlaskan?" 
"Ikhlaskanlah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad adalah utusan Allah!" Kata pengemudi kapal itu. 
Ikrimah menjawab: "Tidak, justru aku melarikan diri adalah karena ucapan itu." 
Selepas itu datanglah isterinya dan berkata: "Wahai Ikrimah putera ayah saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW." 

Kepada isterinya Ikrimah bertanya: "Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?" 
Isterinya menjawab: "Benar, aku telah berbicara dengan baginda Nabi dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu." Begitu saja mendengar berita gembira dari isterinya itu.

Pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya, akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata: "Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim." Kepada isterinya Ikrimah berkata: "Penolakan kamu itu adalah merupakan suatu masalah besar bagi diriku." 

Tidak lama selepas Ikrimah bertemu dengan isterinya itu, mereka pun pulang kembali, setelah mendengar berita bahwa Ikrimah sudah pulang, maka Rasulullah SAW segera ingin menemuinya. Karena rasa kegembiraan yang tidak terkira, sehingga membuatkan Rasulullah SAW terlupa memakai sorbannya. 
Setelah bertemu dengan Ikrimah, Nabipun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW Ikrimah lalu berkata: "Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat merasa gembira, selanjutnya Ikrimah kembali berkata: "Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan." 

Rasulullah SAW menjawab: "Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. 
Ikrimah kembali bertanya: "Selepas itu apa lagi?" Rasulullah menjawab: "Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya." Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW selepas itu Nabi bersabda: "Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan mengabulkannya." 
Ikrimah berkata: "Aku memohon kepadamu ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu." 

Maka Rasulullah SAW pun berdoa: "Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku mahupun tidak." 

Mendengar doa yang dimohon oleh Rasulullah SAW itu, alangkah senangnya hati Ikrimah, maka ketika itu juga ia berkata: "Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya, aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir." 


Demikianlah keadaan Ikrimah, setelah ia memeluk Islam, ia sentiasa ikut dalam peperangan hingga akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Semoga Allah berkenan melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada Ikrimah. Dalam riwayat yang lain pula diceritakan, bahwa ketika terjadinya Perang Yarmuk, Ikrimah juga ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki, pada waktu itu Khalid bin Walid mengatakan: "Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!" Ikrimah menjawab: "Karena kamu wahai Khalid telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah SAW, maka biarlah hal ini aku lakukan!" 


Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Pada waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. Abdullah bin Mas'ud pula berkata: Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata: "Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku." Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu. 


Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan: "Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: "Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku." Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: "Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku." Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga. 

Diriwayatkan oleh al Waqidi dan Ibnu Asakir, dari Abdullah bin az Zubair r.huma., katanya: Pada hari penaklukan Makkah, Ummu Hakim binti al Harits bin Hisyam, istri ‘Ikrimah bin Abu Jahal telah memeluk Islam. Kemudian Ummu Hakim berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, ‘Ikrimah telah melarikan diri darimu ke Yaman. Dia takut engkau akan membunuhnya, maka berilah jaminan keamanan kepadanya.”

Maka Rasulullah saw. bersabda, “Ia aman.”

Maka Ummu Hakim pun berangkat mencari ‘Ikrimah disertai hamba lelakinya yang bangsa Rumawi. Hambanya itu mencoba mencabuli kehormatan Ummu Hakim dan keadaannya sendiri memang membuat hamba itu menginginkannya. Sesampainya mereka di salah satu baki Akk, Ummu Hakim meminta tolong mereka agar mencegah perilaku hambanya itu. Lalu mereka menangkap hamba itu dan mengikatnya.

Sementara itu ‘Ikrimah telah sampai ke kawasan pesisir di Tihamah, lalu ia menaiki kapal. Namun si nahkoda kapal terus berkata, “Sucikanlah dirimu.”

‘Ikrimah bertanya, “Apa yang harus aku ucapkan (untuk menyucikan diriku)?”

Jawab pemilik sampan itu, “Ucapkanlah laa ilaaha illallaah.

Kata ‘Ikrimah, “Tidak ada yang menyebabkan aku melarikan diri melainkan dari kalimat ini (kalimat syahadat).”

Dalam keadaan demikian, datanglah Ummu Hakim melambai-lambaikan ujung bajunya kepada ‘Ikrimah, seraya berkata, “Wahai putera paman! Aku telah datang kepadamu dari sisi orang yang paling banyak menyambung silaturahmi, sebaik-baik manusia, dan semulia-mulia manusia (Muhammad saw.). Janganlah kau binasakan dirimu sendiri.”

Maka ‘Ikrimah berhenti sehingga Ummu Hakim dapat mendekatinya dan berkata, “Sesungguhnya aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu dari Rasulullah saw..”

‘Ikrimah bertanya, “Engkau telah melakukannya?”

Jawab Ummu Hakim, “Ya, aku telah berbicara dengan Rasulullah saw. dan memohon agar engkau diberi jaminan keselamatan, lalu beliau memberi jaminan itu untukmu.”

Maka ‘Ikrimah pun pulang bersama Ummu Hakim, istrinya. Dalam perjalanan Ummu Hakim berkata kepadanya, “Aku telah diganggu oleh hamba laki-laki Rumawi milikmu itu!”

Ummu Hakim lalu menceritakan pengalamannya itu. Maka ‘Ikrimah kemudian membunuh hamba sahaya itu, sedangkan ketika itu ‘Ikrimah belum memeluk Islam.

Ketika keduanya semakin dekat ke Makkah, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Ikrimah bin Abu Jahal akan datang  kepada kalian sebagai orang yang beriman dan berhijrah, maka jangan mencaci bapaknya karena sesungguhnya cacian terhadap mayat menyakiti orang yang masih hidup dan cacian itu sama sekali tidak sampai kepada si mati.”

‘Ikrimah ingin menggauli istrinya, Ummu Hakim yang telah memeluk Islam, tetapi istrinya menolak keinginannya itu. Istrinya berkata, “Sesungguhnya engkau masih kafir, sedangkan aku adalah muslimah.”

Kata ‘Ikrimah, “Sesungguhnya perkara (agama) yang menghalangimu untuk kusetubuhi itu sangatlah besar.”

Ketika Rasulullah saw. melihat kedatangan ‘Ikrimah, beliau segera melompat ke arahnya dan saat itu tidak ada pada pundak nabi sehelai kain selembar pun (yang biasanya diletakkan di atas bahunya), karena kegembiaraan yang amat sangat dengan kedatangan ‘Ikrimah. Kemudian Rasulullah saw.duduk dan ‘Ikrimah berdiri di hadapannya disertai istrinya yang menutup mukanya dengan jilbab.

‘Ikrimah r.a. berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya istriku telah memberitahuku bahwa engkau telah memberikan jaminan keselamatan untukku.”

Jawab Rasulullah saw., “Benarlah apa yang dikatakan istrimu itu, sesungguhnya sekarang engkau dalam keadaan aman.”

Kata ‘Ikrimah lagi. “Kepada apakah engkau menyeru, wahai Muhammad?”

Jawab Rasulullah saw., “Aku menyeru engkau untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah pesuruh Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan engkau melakukan ini dan itu…” Rasulullah saw. menyebutkan satu persatu pokok-pokok agama Islam.

Maka ‘Ikrimah pun berkata, “Demi Allah, apa yang engkau seru adalah kebaikan dan kepada urusan yang indah lagi baik sekali. Demi Allah, sesungguhnya sebelum engkau menyeru kepada kami apa yang engkau serukan (agama Islam), adalah orang yang paling terpercaya penuturannya dan orang yang paling baik di antara kita.”

Kesaksian ‘Ikrimah itu sangat menyenangkan hati Rasulullah saw., kemudian ‘Ikrimah berkata, Ya Rasulullah, ajarilah aku suatu kebaikan yang patut aku ucapkan.”

Rasulullah saw. bersabda, “Katakanlah olehmu: Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan pesuruh-Nya.”

‘Ikrimah pun berkata, “Kemudian apa lagi?”

Sabda Rasulullah saw., “Katakanlah, aku mengambil Allah sebagai saksi dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir, bahwa aku adalah seorang Islam yang berjihad dan berhijrah.”

Maka ‘Ikrimah pun berkata sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. itu.

Rasulullah saw. bersabda kepada ‘Ikrimah, “Tidaklah engkau meminta sesuatu yang sanggup aku berikan kepada seseorang, melainkan pasti aku berikan kepadamu.”

‘Ikrimah berkata, “Sesungguhnya aku meminta engkau agar memohonkan ampun bagiku atas setiap permusuhanku terhadapmu, atas setiap perjalanan yang kupacu untaku dengan kencang untuk memusuhimu atau di mana pun aku menemui untuk menyakitimu, juga atas setiap ucapan yang aku keluarkan dari mulutku di hadapanmu atau pun di belakangmu.”

Karena itu Rasulullah saw. berdo’a, “Ya Allah, ampunilah ia atas setiap permusuhan yang ia lakukan terhadapku, dansetiap perjalanan yang ia lakukan menuju satu tempat yang dengan perjalanan itu ia ingin memadamkan cahaya-Mu. Ampunilah celaannya terhadap kehormatanku, baik di hadapanku maupun di saat aku tidak ada.”

‘Ikrimah berkata, “Aku telah ridha, wahai Rasulullah,” kemudian ‘Ikrimah melanjutkan, “Demi Allah, wahai Rasulullah, aku akan mengorbankan hartaku di jalan Allah, dua kali lebih banyak dari apa yang telah aku korbankan dalam usaha untuk menghalangimu di jalan Allah sebelum ini. Begitu pula aku akan berperang di jalan Allah dua kali lebih banyak dari peperangan yang telah aku lakukan dalam usaha untuk menghalangi di jalan Allah.”

Kemudian ‘Ikrimah pun terus berjihad di jalan Allah hingga ia mati syahid – dengan demikian, Rasulullah saw. mengembalikan Istrinya kepadanya dengan akad nikah yang pertama.

Al Waqidi meriwayatkan banyak hal dari rawinya.

Suhail bin Amr berkata pada saat perang Hunain, “Muhammad dan sahabatnya tidak akan bisa memperbaiki apa yang telah hilang dari mereka dan tidak akan pernah bisa mendapatkannya lagi.”

‘Ikrimah berkata kepadanya, “Ini bukanlah satu ucapan yang tepat. Dan sedikit pun urusan itu bukan menjadi hak Muhammad, Jika ia dikalahkan pada hari ini, maka besok, ia pun juga akan memiliki kesudahan sendiri.”

Suhail berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya zaman di mana kamu menyelisihi Muhammad baru saja kamu tinggalkan.”

Kata ‘Ikrimah, “Hai Abu Yazid, demi Allah, sesungguhnya kita telah memacu kuda kita untuk tujuan yang sia-sia. Sedang akal kita adalah akal kita sendiri. Kita dulu selalu menyembah batu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudharat.”

Seperti yang dituliskan dalam Kanzul Ummal (7/75).

Diriwayatkan oleh al Hakim (3/24) dari Hadits Abdullah bin Zubair r.huma., tetapi ia telah meringkasnya sampai pada  kalimat: Ketika ‘Ikrimah baru sampai di pintu kediaman Rasulullah saw., baginda saw.merasa gembira dan melompat bangun untuk mendekatinya dengan berdiri di atas kaki beliau, karena sangat gembira dengan kedatangannya.

Diriwayatkan oleh al Hakim dari Urwah bin az Zubair r.huma., bahwa ‘Ikrimah berkata: Ketika aku baru saja sampai di hadapan Rasulullah saw., aku berkata kepadanya, “Wahai Muhammad, sesungguhnya istriku telah memberitahuku bahwa engkau telah memberi jaminan keamanan kepadaku.”

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya engkau dalam keadaan aman.”

Aku pun berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-NYA, dan engkau adalah hamba dan pesuruh-NYA. Engkau adalah sebaik-baik manusia, sejujur-jujur manusia dan paling menepati janji di kalangan mereka.”

Aku berkata demikian itu kepada Rasulullah saw. sambil menundukkan kepalaku karena merasa sangat malu kepada beliau.

Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonkan ampunan untukku atas setiap permusuhanku terhadapmu dan atas setiap pasukan berkuda yang aku kerahkan untuk memenangkan kemusyrikan.”

Maka Rasulullah saw. berdo’a, “Ya Allah, ampunilah ‘Ikrimah atas setiap permusuhannya terhadapku dan setiap pasukan berkuda yang telah dikerahkannya dalam usaha menghalangi dari jalan-MU.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku dengan satu kebaikan yang engkau ketahui.”

Lalu beliau mengajarinya. Sabda Rasulullah saw., “Ucapkanlah olehmu: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan pesuruh-NYA; dan engkau berjuang di jalan-NYA.”

Kemudian aku berkata, “Demi Allah, ketahuilah wahai Rasulullah! Aku tidak akan membiarkan satu belanja pun yang pernah kukeluarkan dalam rangka menghalangi dari jalan Allah, melainkan pasti akan kuinfakkan dua kali lipatnya di jalan Allah. Dan tidak pula kubiarkan satu perang pun dalam rangka menghalangi dari jalan Allah, melainkan aku akan bersungguh-sungguh dua kali lipatnya di jalan Allah.”

Kemudian ‘Ikrimah berjuang dalam peperangan sehingga mati syahid dalam perang Ajnadain1 pada zaman kekhalifahan Abu Bakar r.a.. sesungguhnya Rasulullah saw. pernah mengangkat ‘Ikrimah sebagai pemungut zakat dari Bani Hawazain, ketika Rasulullah saw. mengerjakan haji. Ketika Rasulullah saw. wafat, ‘Ikrimah sedang berada di Tabalah2

Ath Thabarani juga meriwayatkan dari Urwah r.a. mengenai kisah ke-Islamannya secara ringkas, sebagaimana tercantum dalam al Majma’ (juz 6 hal. 174).
_________________________________________________________________________
1 Ajnadain adalah suatu tempat di Syam dari arah Palestina, yang terletak antara ar Ramlah dan Jibrain. Di situ pernah terjadi perang yang terkenal antara orang Islam dan orang Romawi. Dikatakan oleh Ibnu Ishaq dan az Zubair bin Bakkar bahwa ‘Ikrimah telah terbunuh dalam perang Yarmuk pada masa kekhalifahan Umar. (Al Ishabah (2/489) kata Ibnu Hajar, “Jumhur ulama berpendapat bahwa ia telah terbunuh di Ajnadain.” Al Waqidi mengatakan bahwa tidak ada perselisihan di antara sahabat-sahabatnya dalam perkara ini.

2 Tabalah adalah sebuah kota yang terkenal di Yaman.
Dikutip dari Kitab Hayatush Shahabah Terjemahan Jilid 1, Penerbit Pustaka Ramadhan


Senin, 25 Juli 2011, 14:36 WIB

Kisah Sahabat Nabi: Hamzah bin Abdul Muthalib, Pemimpin Para Syuhada

Red: cr01
warofweekly.blogspot.com
Ilustrasi
Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu. Sejak muda, paman Rasulullah ini memang hobi dan gemar berburu binatang.

Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di tempat perburuan tanpa mendapatkan hasil, ia pun beranjak pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, ia lebih dulu mampir di Ka'bah untuk melakukan thawaf.

Sebelum sampai di Ka'bah, seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud'an At-Taimi menghampirinya seraya berkata,"Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kau melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya."

Usai mendengarkan panjang lebar peristiwa yang dialami oleh keponakannya, Hamzah terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Ia kemudian membawa busur dan anak panahnya, kemudian bergegas menuju Ka'bah dan berharap dapat bertemu Abu Jahal di sana.

Sampai di Ka'bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Dengan tenang Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur. Darah segar mengucur deras dari dahinya.

"Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu kepadaku jika kamu berani!" bentak Hamzah kepada Abu Jahal.

Dalam beberapa saat, orang-orang yang berada di sekitar Ka'bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.

Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tetapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata,"Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca keponakannya dengan kata-kata yang tidak pantas."

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ia adalah paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian. Ia juga hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar. Pada Perang Uhud syahid dan Rasulullah menjulukinya dengan "Asadullah" (Singa Allah) dan menyebutnya "Sayidus Syuhada" (Penghulu atau Pemimpin Para Syuhada).


Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berpikir serta merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Abu Jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum Muslimin berpendapat, perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Oleh sebab itu, ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum Muslimin lainnya.

Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar Jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama Islam lebih mendalam. Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan dakwah Islam.

Pada Perang Badar, Rasulullah menunjuk Hamzah sebagai salah seorang komandan perang. Ia dan Ali bin Abi Thalib menunjukkan keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama Islam. Akhirnya, kaum Muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang.

Kaum kafir Quraisy tidak mau menelan kekalahan begitu saja, maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas. Akhirnya, tibalah saatnya Perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum Muslimin. Sasaran utama perang itu adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Seorang budak bernama Washyi bin Harb diperintahkan oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, untuk membunuh Hamzah. Wahsyi dijanjikan akan dimerdekakan dan mendapat imbalan yang besar pula jika berhasil menunaikan tugasnya.

Akhirnya, setelah terus-menerus mengintai Hamzah, Wahsyi melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Tak lama kemudian, Hamzah wafat sebai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benak beliau bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah dan mengambil hatinya.

Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata,"Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini."

Setelah itu, Rasulullah dan kaum Muslimin menyalatkan jenazah Hamzah dan para syuhada lainnya satu per satu.

Ibnu Atsir dalam kitab Usud Al-Ghabah, mengatakan dalam Perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Sampai pada suatu saat ia tergelincir sehingga terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya. Lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya. Namun Hindun memuntahkannya kembali karena bisa menelannya.

Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya: "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (QS An-Nahl: 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq Sirah-nya, bahwa Ummayyah bin Khalaf bertanya pada
Abdurahman bin Auf, "Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?"

"Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib," jawab Abdurrahman bin Auf.

"Dialah yang membuat kekalahan kepada kami," ujar Khalaf.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang dua bilah pedang.

Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah SAW melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis. 

IKRIMAH BIN ABU JAHAL RADHIALLAHU ‘ANHU

Siapakah diantara kita yang tidak mengenal nama ini, Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam, lelaki yang dihormati kaumnya sebelum baligh? Memang benar jika kita mengatakan bahwa dia adalah junjungan  bagi kaumnya, lelaki yang terhormat, ditaati, dan mempunyai pangkat dan kekuasaan.

Akan tetapi, dia telah mengubur dirinya dalam pasir-pasir kekafiran, padahal jika dia menghendaki, dia dapat menghidupkan dirinya itu  dengan menggunakan cahaya iman. Karena itulah, ia berhak untuk mendapatkan laknat Tuhan daripada keridhaan-Nya.
Flashdisk Yufid.TV
Abu Jahal adalah Fir’aun umat ini. Ia hidup di Makkah sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya. Ia selalu berusaha membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat sejumlah ayat (tanda kekuasaan) Allah dan sejumlah mukjizat, tetapi mata hatinya telah lebih dulu buta sebelum mata kepalanya. Karenanya,ia pun menjadi seperti setan yang sangat pembangkang.
Sering kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya merasakan gangguan dan pengingkarannya. Akan tetapi, suatu hari beliau berharap dia masuk Islam. Beliau bersabda:
Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan ‘Amr bin Hisyam atau ‘Umar bin Khattab.”
Allah mengabulkan doa Rasulullah ini, sehingga orang yang paling baik diantara kedua itu adalah ‘Umar bin Khattab yang pada akhirnya dia masuk Islam, sedangkan orang yang paling jahat diantara keduanya adalah Abu Jahal yang senantiasa memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sesungguhnya Abu Jahal adalah pengatur siasat perang Badar bagi musuh Islam. Ia berkeinginan memberikan pelajaran bagi umat Islam. Akan tetapi, ia telah tertipu setannya bahwa ia akan mengalahkan nabi dan para sahabatnya dan tiba-tiba ia mati terbunuh berlumuran darah; dan sebelum mati, ia sempat berkata: “Bagi siapakah kemenangan hari ini?” Maka dikatakan kepadanya: “Bagi Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar itu, Abu Jahal mencela kaum muslimin dan bertambah kafir. Hal ini membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Fir’aun umat ini lebih parah daripada Fir’aun Musa.”
Memang benar, Fir’aun musa beriman saat akan meninggal dunia meskipun Allah tidak menerimanya. Adapun Fir’aun arab ini mati dalam keadaan kafir dan mencela Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam kondisi yang buruk penuh dengan kedengkian terhadap Islam dan nabi-Nya, tumbuh seorang remaja yang bernama Ikrimah. Ikrimah melihat ayahnya di Makkah tidak henti-hentinya memusuhi umat Islam, kemudian melihat kaumnya kalah dalam perang Badar. Ia kembali ke Makkah tanpa disertai ayahnya seperti ketika dia berangkat ke Badar. Ia membiarkan ayahnya tewas di tangan pasukan Islam, bahkan sampai penguburannya pun ia membiarkannya.
Adapun dalam perang Uhud kondisi sedikit berbeda. Pasukan Quraisy keluar dengan membawa pasukan kuda dan kebesarannya. Ikrimah berada dalam pasukan inti bersama Khalid bin Walid yang menjadi pemimpin pasukan sayap kanan. Bahkan Ikrimah membawa istrinya, Ummu Hakim, yang bertugas menabuh rebana bersama dengan Hindun binti ‘Utbah. Saat itu, Ummu Hakim mendendangkan syair:
Ayolah, wahai bani ‘Abdid Dar
Ayolah, para pembela kaumnya
Pukulah musuhmu dengan pedang
Para pasukan kafir ini menjadi bersemangat. Ikrimah mengendarai kudanya yang dikendalikan setan dan kedengkiannya untuk memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Tetapi, Ikrimah meletakkan di depan matanya peristiwa tewasnya sang ayah di tangan kaum muslimin pada perang Badar. Sampai akhirnya peperangan berakhir dengan kemenangan di tangan pasukan kafir. Akan tetapi, kemenangan mereka itu merupakan kemenangan  yang tidak sempurna, sebab mereka takut serangan kaum muslimin, sehingga mereka lari menuju kota Makkah.
Dalam perang Khandaq atau Al-Ahzab, Ikrimah adalah salah satu dari ribuan anggota pasukan kafir yang mengepung kota Madinah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-oranng Islam. Akan tetapi, mereka tercengang ketika melihat parit besar yang belum pernha mereka lihat sebelumnya. Parit ini membuat senjata-senjata di tangan mereka tidak berguna. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pengepungan pun berlangsung lama. Ikrimah tidak sabar, maka ia keluar bersama dengan ‘Amr bin Wud untuk mengajak pasukan Islam melakukan pertandingan jawara (duel satu lawan satu) dari kedua pasukan. ‘Ali radhiyAllahu ‘anhu keluar menanggapi ajakan ini. ‘Ali melawan ‘Amr bin Wud dan memperoleh kemenangan karena berhasil memenggal kepala ‘Amr bin Wud dan melemparkannya pada pasukan musyrik.
Melihat kejadian ini, Ikrimah takut sehingga ia lari seperti tikus yang ketakutan. Ikrimah meninggalkan peralatan perang dan barang-barang lainnya. Oleh karena itu, ‘Ali radhiyAllahu ‘anhu mengambilnya dan memberikannya sebagai hadiah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin. Mereka berhasil menaklukkan kota Makkah. Akan tetapi, kemenangan ini tidak terlepas dari perlawanann  kecil. Ikrimah bersama dengan Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan seorang lelaki dari bani Bakar (namanya Hammas bin Qais) melakukan perlawanan terhadap kaum muslimin.
Ketika melihat apa yang dilakukan Qais, istrinya berkata: “Wahai Hammas, apa yang kamu persiapkan?”
“Aku mempersiapkannya untuk Muhammad,” ujar Hammas.
Demi Allah, kamu tidak akan mampu melawan Muhammad dan para sahabatnya,” tukas istrinya.
Dengan sombong Hammas berkata: “Kami akan membunuh mereka dan kamu akan mempunyai pembantu dari mereka.”
Sementara itu Ikrimah bersama teman-temannya berkumpul di tempat yang dinamakan Al-Khandamah mereka ingin melakukan permusuhan dan perlawanan terhadap kaum muslimin. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meladeni mereka dengan mengajukan pedanngnya yang terhunus, yaitu Khalid bin walid (yang mempunyai julukan Saifullah wa Rasulihi Al-Maslul yang berarti pedang Allah dan Rasul-Nya yang terhunus). Maka mereka kalah dan lari tunggang langgang, termasuk juga Hammas. Oleh karena itu, Hammas masuk ke rumahnya dan menutup pintunya, kemudian dia mengucapkan syair:
Sungguh andai kamu menyaksikan hari Al-Khandamah
Saat Shafwan dan Ikrimah lari kalah
Kami disambut pedang-pedang muslim
Yang memotong-motong setiap tengkorak kepala dan tangan

PELARIAN IKRIMAH BIN ABU JAHAL

Ikrimah lari, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengizinkan untuk membunuhnya bersama sembilan orang lainnya. Melihat ancaman mati dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, Ikrimah melarikan diri ke Yaman. Pada saat itu istrinya yang bernama Ummu Hakim masuk Islam dan meminta perlindungan dan keamanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Ikrimah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Dia aman”
Ummu Hakim melakukan perjalanan untuk mengembalikan suaminya ke Makkah. Dalam perjalanannya ini, ia ditemani seorang lelaki Romawi. Lelaki ini melihat adanya kesempatan untuk berbuat mesum karena mereka hanya berdua saja, sementara jarak perjalanan sangat jauh. Akan tetapi, Ummu Hakim menolaknya hingga akhirnya mereka berdua sampai di suatu pantai. Disinilah takdir menundukkan Ikrimah.
Ikrimah berkata kepada salah satu seorang nahkoda kapal: “Bawalah aku sampai ke Yaman dan aku akan memberikan apa yang kamu inginkan.”
Nahkoda kapal berkata, “Tidak, kecuali kamu ikhlas.”
“Bagaimana cara berikhas?” Tanya Ikrimah.
Kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Jawab nahkoda kapal.
Dengan kesal Ikrimah berrkata: “Ini adalah Tuhan Muhammad yang kami diajak kepada-Nya.”  Ikrimah mengetahui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Ia berputar. Ia kaget, karena di depannya terdapat istrinya. Istrinya berkata: “Aku datang kepadamu dari manusia yang paling baik, mannusia yang paling penyayang, manusia yang paling santun, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku telah meminta perlindungan dan keamanan untukmu darinya. Beliau telah menjamin keamananmu, maka janganlah kamu binasakan dirimu sendiri! Kembalilah, karena sesungguhnya kamu akan aman.”
Ummu Hakim menceritakan hal ihwal pemuda Romawi yang bersamanya. Ia telah meminta bantuan kepada sebagian orang-orang pedalaman dan mereka mau memberikan bantuan. Ia masih tetap bersama dengan pemuda ini, sehingga nafsu pemuda ini tertuju kepadanya. Maka dalam perjalanan menuju Makkah, Ikrimah pun membunuh pemuda tersebut.
Saat diajak berduaan oleh Ikrimah, Ummu Hakim berkata: “Wahai Ikrimah, sesungguhnya kamu musyrik, sedang aku muslimah. Allah telah mengharamkan diriku atasmu.” Kata-kata yang seperti panah ini telah menancap di hati Ikrimah, sehingga hati Ikrimah pun terluka dan pikirannya menjadi kacau balau.
Sementara di Makkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri diantara para sahabatnya sambil bersabda: “Sesungguhnya Ikrimah bin Abi Jahal akan datang kepadamu dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka janganlah kamu mencela ayahnya, karena mencela orang yang sudah mati dapat menyakitkan orang yang masih hidup, walaupun celaan itu tidak sampai kepada orang yang sudah mati.”

MASUK ISLAMNYA IKRIMAH BIN ABU JAHAL

Ikrimah pun datang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selamat datang, pengendara yang berhijrah.”Beliau berdiri kepadanya, meluaskan kain untuknya, dan menyambutnya dengan sebaik-baik sambutan.
Ikrimah berkata: “Aku mendengar bahwa engkau telah menjamin keamananku, wahai Muhammad ?”
“Ya sungguh kamu aman,” jawab Rasul
“Untuk apa kamu menngajakku ?” tanya Ikrimah.
“Untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu  bagi-Nya, melaksanakan shalat, membayar zakat, menunaikan puasa, dan berhaji di Baitullah,” kata Rasul.
Ikrimah berkata: “Demi Allah, engkau tidak mengajakku, kecuali kepada kebenaran; dan engkau tidak memerintahku, kecuali kepada kebaikan.” Ikrimah mengulur tangannya dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Ikrimah berkata: “Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu untuk mengampuniku atas setiap permusuhanku terhadapmu, setiap jejak langkahku, setiap kesempatan aku bertemu denganmu, dan setiap perktaan yang aku ucapkan dihadapanmu atau tidak dihadapanmu.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Ikrimah:
 Ya Allah ampunilah setiap permusuhan yang dilakukannya terhadapku, setiap jejak langkahnya yang ia inginkan untuk memadamkan cahaya-Mu. Ampunilah perkataan yang diucapkan guna merendahkan martabatku, baik ketika dia berada di hadapanku maupun tidak dihadapanku.”
Ikrimah berkata: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mengeiuarkan satu hartapun yang telah aku gunakan untuk memusuimu, kecuali aku juga akan menginfakkan harta yang sama di jalan Allah.”
Setelah masuk Islam, Ikrimah bersumpah: “Demi Dzat yang telah menyelamatkanku saat perang Badar.” Ia bersyukur kepada Tuhannya karena ia tidak mati terbunuh dalam perang Badar (karena pada waktu itu Ikrimah masih dalam keadaan kafir, red). Ia masih tetap hidup sampai akhirnya Allah pun memuliakannya dengan Islam. Ia selalu membawa mushaf sambil menangis: “Kitab Tuhanku ! Kitab Tuhanku !“

SYAHIDNYA IKRIMAH BIN ABU JAHAL

Pada saat perang Yarmuk meletus dengan hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa buas Ikrimah pun bangkit dan berkata: “Minggirlah, wahai Khalid bin Walid, biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi ? Demi Allah tidak, selamanya tidak akan terjadi !”
Ikrimah berteriak: “Siapa yang akan membaiatku untuk mati ? “
Pamannya Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka 400 pasukan muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi pasukan-Nya.
Perang pun selesai. Ikrimah tergeletak terkena 70 tikaman di dadanya, sedang disampingnya adalah Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Al-Harits memanggil-manggil meminta air namun ia melihat Ikrimah sangat kehausan maka ia berkata: “Berikanlah air kepada Ikrimah.” Ikrimah melihat Ayyasy bin Abi Rabi’ah juga sangat kehausan, lalu ia berkata: “Berikanlah air kepada Ayyasy.” Ketika air hampir diberikan, Ayyasy sudah tidak bernyawa. Para pemberi air dengan cepat menuju Ikrimah dan Al-Harits, namun keduanya pun sudah tiada untuk meminum air surga dan sungai-sungainya.
Sumber: Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Anak, Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, Irsyad Baitus Salam, 2006 (Dipublikasikan ulang oleh KisahMuslim.com)


Read more https://kisahmuslim.com/1574-ikrimah-bin-abi-jahal.html


Sumber : Sirah Ibnu Ishaq dan sumber lain